Dunia Boleh Berubah, Tapi Takdir Kepemimpinan Pria Tak Pernah Usang

Bagikan Keteman :


Di tengah gemuruh zaman modern, ketika segala sesuatu bergerak cepat, dan peran-peran sosial saling bertukar tempat, satu pertanyaan menggema di hati banyak pria: “Masih adakah tempat untukku sebagai pemimpin?”

Jawabannya: Bukan hanya ada—itu adalah takdirmu.


Islam: Menetapkan Pria Sebagai Pemimpin, Bukan Penguasa

Dalam Islam, Allah tidak menjadikan pria sebagai penguasa yang menindas, tapi sebagai pemimpin yang mengayomi.

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita…”
(QS. An-Nisa: 34)

Pemimpin berarti penanggung jawab. Dalam rumah tangga, dalam keluarga, dalam masyarakat. Bahkan dalam keluarga, Tuhan menitipkan tiga sosok wanita kepada pria: ibunya, istrinya, dan saudara perempuannya. Itu bukan kebanggaan—itu amanah.

Dan setiap amanah… akan ditagih.


Dunia Modern Menguji Kepemimpinan, Bukan Menghapusnya

Hari ini kita hidup di dunia yang keras. Wanita maju, bersaing, dan memimpin. Mereka menduduki posisi penting—karena mereka mau berjuang. Lalu bagaimana dengan para pria?

Apakah ini berarti Islam sudah tidak relevan?
Tidak. Justru inilah waktunya pria membuktikan, bahwa ia pantas menyandang takdir sebagai pemimpin.


Banyak Pria Kehilangan Peran, Bukan Karena Wanita Merebutnya, Tapi Karena Ia Melepasnya

Fakta yang menyakitkan: bukan wanita yang menggeser pria, tapi pria yang perlahan-lahan meninggalkan posisinya.
Ketika lelaki malas belajar, lari dari tanggung jawab, dan takut mengambil risiko, dunia tak punya pilihan selain memberi ruang pada siapa yang siap: dan hari ini, banyak wanita yang lebih siap.

Mereka tidak sedang melawan pria—mereka hanya mengisi kekosongan.


Wahai Lelaki, Bangkitlah—Karena Dunia Masih Menunggumu

Jangan mengeluh karena wanita lebih unggul. Bangkitlah, karena kamu punya tugas besar yang Tuhan sendiri tetapkan.

  • Jadilah pemimpin, bukan hanya di rumah, tapi dalam visi hidup.
  • Bangun karakter, bukan hanya otot.
  • Latih tanggung jawab, bukan sekadar tuntut hak.
  • Bimbing keluargamu, bukan hanya mendominasi mereka.

Kepemimpinan bukan tentang suara yang lebih keras, tapi visi yang lebih jelas.


Penutup: Kepemimpinan Bukan Soal Gender, Tapi Siapa yang Siap Menanggung Amanah

Dunia boleh berubah. Zaman boleh bergerak. Tapi amanah dari Tuhan tidak pernah berubah. Jika kamu seorang pria, maka kamu adalah pemimpin. Titipan Tuhan ada di tanganmu: ibumu, istrimu, saudara perempuanmu.

Mereka tidak butuh laki-laki yang sekadar maskulin secara fisik. Mereka butuh pemimpin yang kokoh secara iman, tangguh secara akhlak, dan bijak dalam keputusan.

Jangan tunggu zaman tunduk padamu.
Tundukkan egomu, perbaiki jiwamu, dan pimpinlah dengan akhlak dan cinta.

Karena suatu hari nanti, Tuhan akan bertanya:
“Apa yang telah kau lakukan dengan titipan-Ku?”


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment