Bagaimana Manusia Modern Bisa Meyakini Muhammad ﷺ sebagai Utusan Tuhan?
Iman dalam Islam bertumpu pada kesaksian bahwa “Muhammad adalah utusan Allah”. Namun, setelah lebih dari 14 abad berlalu, bagaimana manusia zaman sekarang bisa sampai pada keyakinan itu secara rasional?
1. Sumber Paling Obyektif: Al-Qur’an
Dalam sejarah Islam, Al-Qur’an adalah pusat klaim kenabian Muhammad ﷺ. Beliau mengaku bukan penulisnya, melainkan hanya penyampai wahyu. Maka, bukti paling netral dan paling bisa diuji manusia modern adalah kitab ini sendiri.
Beberapa sisi yang bisa diteliti secara ilmiah atau kritis:
- Keaslian teks: Sejak abad ke-7, naskah Al-Qur’an terjaga dengan keseragaman luar biasa. Manuskrip-manuskrip kuno menunjukkan tidak ada perubahan substansial.
- Bahasa dan gaya: Banyak ahli bahasa Arab klasik mengakui gaya Al-Qur’an unik dan tak tertandingi pada zamannya (tantangan i‘jaz al-Qur’an).
- Isi kandungan: Ada ayat-ayat yang sesuai dengan temuan ilmu pengetahuan modern (misalnya tentang embriologi, peredaran benda langit, dll.), walau harus diingat Al-Qur’an bukan buku sains, melainkan petunjuk hidup.
- Pengaruh moral dan peradaban: Al-Qur’an melahirkan transformasi sosial, hukum, dan peradaban besar dari masyarakat yang tadinya terbelakang.
Semua ini adalah titik-titik awal yang dapat diuji oleh manusia modern tanpa harus terlebih dahulu beriman.
2. Apakah Semua Pernyataan Al-Qur’an Terbukti Benar oleh Ilmu Modern?
Perlu diluruskan: Al-Qur’an tidak menyajikan teori ilmiah lengkap seperti buku sains. Ia berisi petunjuk spiritual, hukum moral, dan keterangan alam semesta dengan bahasa umum. Ada ayat yang sesuai dengan ilmu modern, ada pula yang belum terjelaskan.
Namun sejauh ini, tidak ada kontradiksi nyata yang terbukti keliru secara pasti. Justru sering kali penafsiran manusia terhadap ayat yang keliru.
Jadi argumen utama bukan “semua ayat sudah terbukti ilmiah”, melainkan “kitab ini konsisten, tidak mengandung kesalahan nyata, dan efeknya luar biasa”—hal yang sulit dijelaskan jika ini hanya karya manusia abad ke-7.
3. Dari Kajian Rasional Menuju Keyakinan Iman
Setelah menelaah Al-Qur’an dan mendapati keistimewaannya, seseorang bisa sampai pada kesimpulan logis:
“Kitab ini mustahil buatan manusia biasa. Jika ia benar-benar wahyu, maka pembawanya adalah utusan Tuhan.”
Inilah titik peralihan dari akal menuju iman. Akal sudah “menemukan alasan”, lalu hati menerima dan bersaksi. Bersyahadat bukan sekadar ucapkan kalimat, tetapi mengakui kebenaran yang sudah diyakini.
4. Inti Pemahaman
- Islam mendorong penelitian: Uji, baca, teliti Al-Qur’an; jangan hanya percaya buta.
- Kebenaran Al-Qur’an mengarah pada kebenaran Muhammad ﷺ: Jika sumbernya benar, maka penyampainya benar.
- Iman lahir dari kesadaran: Setelah yakin, seseorang tunduk dan mengikuti meski belum semua dimengerti—itulah yang disebut beriman.
Dengan cara inilah manusia modern tetap bisa sampai pada kesimpulan yang sama seperti orang-orang dahulu: bahwa Muhammad ﷺ bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan benar-benar utusan Allah.
By: Andik Irawan