Dari Akal Menuju Iman: Logika Menerima Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ

Bagikan Keteman :

Banyak orang memandang iman sebagai sesuatu yang “melompat” begitu saja—percaya tanpa dasar. Padahal dalam Islam, iman yang kokoh justru lahir melalui jalan berpikir yang sehat. Al-Qur’an sendiri berulang kali mengajak manusia untuk menggunakan akal: “Tidakkah kalian berpikir?”

1. Ketika Akal Berhenti Membantah

Jika seseorang telah meneliti Al-Qur’an dengan jujur, menimbang isinya dengan nalar, dan tidak menemukan celah bantahan terhadap kebenarannya, maka logika sehat mengarah pada satu kesimpulan: kitab ini bukan karya manusia biasa. Ini bukan sekadar susunan kata, melainkan firman Tuhan. Inilah tahap awal—penerimaan melalui akal.

2. Konsekuensi Logis: Mengakui Sumber dan Pembawanya

Al-Qur’an sendiri mengabarkan bahwa ia adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad putra Abdullah. Jika seseorang sudah mengakui kebenaran kitabnya, maka secara konsisten ia pun mengakui kebenaran pembawanya. Inilah tahap berikutnya—meyakini bahwa Muhammad ﷺ adalah benar-benar utusan Tuhan.

3. Dari Keyakinan Rasional ke Iman yang Sejati

Sampai di sini, perjalanan masih berada di ranah intelektual. Namun Islam tidak berhenti pada pembuktian rasional; ia mengajak untuk melangkah lebih jauh: beriman. Iman berarti mempercayai, tunduk, dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ meskipun ada bagian yang belum kita pahami sepenuhnya. Ini bukan mematikan akal, tetapi menaruh kepercayaan penuh kepada sumber kebenaran yang sudah diyakini.

4. Mengapa Iman Tetap Menggunakan Akal

Al-Qur’an tidak meminta manusia berhenti berpikir. Justru ia menuntun akal untuk menemukan jalan kebenaran, lalu menuntun hati agar mantap bersyahadat. Setelah yakin, barulah lahir kepatuhan: menerima ajaran beliau secara utuh—itulah bukti iman yang sejati.

5. Pintu Masuk, Hati, dan Tindakan

  • Akal sebagai pintu masuk: menilai dan membuktikan.
  • Hati sebagai tempat bersandar: bersaksi dan mempercayai.
  • Tindakan sebagai bukti: mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika ketiga unsur ini menyatu, lahirlah iman yang teguh—iman yang bukan sekadar warisan, melainkan hasil kesadaran penuh. Inilah makna bersyahadat: bersaksi dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment