1. Logika Akal pada Skala Kecil
Akal manusia secara fitrah bekerja dengan pola sebab–akibat. Jika melihat sesuatu yang rapi, tertib, dan memiliki pola, otomatis akal menyimpulkan ada pelaku atau pengatur di baliknya.
Contoh sederhana:
- Ada seribu batu bata tersusun rapi dan presisi. Kita tidak mungkin berkata “itu terjadi sendiri.” Akal pasti berkata “ada yang menyusun.”
- Ada jejak kaki binatang di padang pasir. Kita tidak mungkin berkata “itu terjadi begitu saja.” Akal pasti berkata “ada binatang baru saja lewat.”
Inilah naluri dasar akal: keteraturan menunjukkan adanya pengatur.
2. Logika Akal pada Skala Besar
Sekarang logika itu diangkat ke skala yang jauh lebih besar: alam semesta.
- Tata surya yang presisi, hukum gravitasi yang konsisten, siklus air, hukum kimia, hukum fisika.
- Keteraturan dan keseimbangan ekosistem.
- Kehidupan yang kompleks dan terarah.
Kalau pada batu bata kita yakin ada penyusunnya, dan pada jejak pasir kita yakin ada yang melangkah, maka pada alam semesta yang jauh lebih besar dan rumit, akal yang sehat akan lebih yakin lagi bahwa ada Pengatur dan Pencipta di baliknya.
3. Kesimpulan Akal Sehat
Dengan dua contoh logika ini, akal sampai pada kesimpulan:
- Keteraturan menunjukkan ada pengatur.
- Tanda-tanda menunjukkan ada yang ditandai.
Karena itu, keberadaan alam raya yang rapi, tertib, dan kompleks adalah tanda (ayat) bagi keberadaan Sang Pencipta. Dalam bahasa agama-agama, Dia disebut Tuhan.
4. Penjelasan dalam Islam
Islam menyebut cara berpikir ini sebagai tadabbur (merenung) dan tafakkur (berpikir). Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia melihat langit, bumi, dan diri sendiri sebagai ayat (tanda) kebesaran Allah:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Artinya, Islam tidak meminta manusia menutup akal, tetapi justru menggunakannya untuk menemukan Tuhan.
5. Dari Menyadari Adanya Tuhan Menuju Mengenal-Nya
Begitu akal menyimpulkan pasti ada Sang Pengatur, maka langkah berikutnya adalah mencari petunjuk-Nya: apakah Dia pernah mengutus pembimbing? apakah Dia menurunkan wahyu? Di sinilah agama hadir sebagai jawaban. Dalam Islam, petunjuk itu berupa Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ.
6. Ajakan Motivasi
Setiap Muslim diajak untuk merenung:
- Jangan berhenti hanya pada kepercayaan warisan.
- Gunakan akal sehat untuk menyimpulkan adanya Tuhan.
- Gunakan akal sehat untuk mengenali tanda-tanda keaslian wahyu dan kerasulan.
Dengan begitu, iman Anda bukan sekadar taklid, melainkan iman yang sadar, hidup, dan kokoh.
By: Andik Irawan