Menghidupkan Kembali Kesadaran Akan Hari Kebangkitan

Bagikan Keteman :


Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, mengapa kita begitu mudah gelisah dengan urusan dunia tetapi jarang resah tentang akhirat? Mengapa kita sibuk mengejar yang fana, padahal yang abadi sedang menunggu? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyadarkan bahwa menjaga kesadaran akan hari kebangkitan memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti mustahil.

Allah menciptakan kita dengan sifat lupa dan lemah, agar kita belajar berjuang. Dunia yang tampak nyata sering kali lebih memikat daripada akhirat yang ghaib. Hiruk pikuk kehidupan sehari-hari membuat kita mudah terbawa arus. Tapi justru di sinilah letak tantangannya. Kita diberi kesempatan untuk menghidupkan kembali kesadaran itu, agar hati kita tetap bening dan langkah kita tetap terarah.

Bayangkan bila setiap hari kita mampu mengingat sejenak tentang kehidupan setelah mati: tentang keadilan Allah, tentang surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kesadaran itu akan menjadi bahan bakar yang menjaga semangat kita dalam beramal. Kita tidak lagi mudah putus asa, tidak mudah iri, tidak mudah terbuai, karena hati selalu diarahkan pada tujuan yang lebih besar.

Bagaimana caranya?

  • Mulailah dengan membaca dan merenungi ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits tentang akhirat. Bukan sekadar membaca, tetapi menghadirkannya ke dalam hati.
  • Sisihkan waktu untuk dzikir dan doa harian, memohon agar hati tetap teguh mengingat-Nya.
  • Carilah lingkungan yang mengingatkan kita pada nilai-nilai akhirat. Bersama orang saleh, hati kita lebih mudah terjaga.
  • Latih diri dengan amal-amal kecil namun rutin — shalat sunnah, sedekah, membaca Qur’an — yang pelan-pelan membentuk karakter.
  • Dan jangan lupa tafakur, sejenak merenungi kematian, hisab, surga dan neraka. Bukan untuk menakut-nakuti diri, tetapi untuk melembutkan hati dan menumbuhkan harapan.

Kesadaran tentang akhirat adalah sumber motivasi terbesar. Saat hati ingat akhirat, dunia tidak lagi terasa berat. Kita bekerja, berusaha, dan berjuang bukan sekadar untuk dunia, tetapi untuk bekal pulang. Kesadaran inilah yang membuat langkah kita lebih ringan dan hati kita lebih damai.

Mari kita jadikan setiap hari sebagai latihan untuk menghidupkan kesadaran ini. Bukan kesempurnaan yang diminta Allah, melainkan usaha yang terus diperbarui. Dengan niat yang tulus dan langkah yang kecil namun konsisten, kita akan merasakan sendiri manisnya hidup dengan kesadaran akhirat yang senantiasa menyala.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment