Peran Akal Setelah Memilih Agama: Dari Pencari ke Penjaga
1. Akal Sebagai Pencari Kebenaran
Dalam Islam, akal diberi kebebasan untuk menyelidiki: menimbang bukti, memeriksa klaim wahyu, dan menguji kebenaran ajaran. Selama di tahap pencarian, akal wajar bersikap kritis—itulah proses menemukan kebenaran.
2. Akal Sebagai Peneguh Setelah Yakin
Namun setelah akal bulat menetapkan pilihan dan yakin bahwa suatu agama memang benar (misalnya Islam), maka posisinya berubah:
- Dari pencari menjadi pengikut sadar.
- Dari penguji menjadi penjaga.
- Dari mempertanyakan menjadi mempelajari lebih dalam.
Ini bukan berarti mematikan akal, tetapi mengubah peran akal. Jika sebelumnya akal mencari “mana yang benar”, sekarang akal bertugas memahami, menjelaskan, dan mengamalkan ajaran yang diyakini benar.
3. Mengapa Akal Perlu Tunduk pada Ajaran
- Keterbatasan akal: Ada hal-hal gaib yang secara definisi tidak bisa diukur dengan pancaindra atau logika manusia.
- Proses pemahaman bertahap: Apa yang hari ini terasa “tidak masuk akal” bisa jadi di masa depan terbukti bijaksana atau baru bisa dipahami.
- Kesetiaan pada komitmen: Jika seseorang sudah bersaksi bahwa ajaran itu benar, maka konsistensinya diuji dengan kesediaan mengamalkan sekalipun belum paham semua detailnya.
4. Akal yang Tunduk Bukan Akal Mati
Yang dimaksud “tunduk” bukan menutup pikiran atau menjadi anti-pertanyaan. Justru akal:
- Menjaga kemurnian ajaran agar tidak dipelintir.
- Menjelaskan ajaran sesuai kapasitasnya.
- Mengembangkan ilmu dari ajaran yang diyakini (seperti ulama klasik mengembangkan ilmu tafsir, fiqih, sains).
Dengan posisi ini, akal menjadi makmum yang cerdas, bukan makmum yang buta.
5. Bahaya Akal yang “Masih Liar”
Akal yang sudah memilih suatu agama tetapi tetap memperlakukan ajarannya seperti “objek eksperimen” tanpa niat mengamalkan akan selalu curiga, menuduh, dan mengkritik secara destruktif.
Ini tanda akal belum menemukan titik mantap. Orang seperti ini sejatinya belum siap berkomitmen, masih dalam tahap pencarian, sehingga wajar bila terus gelisah.
6. Ajakan Motivasi
Gunakanlah akal secara sehat:
- Saat mencari kebenaran: kritis dan objektif.
- Saat sudah yakin: patuh, mendukung, dan memperdalam.
Dengan sikap ini, akal tetap hidup dan aktif, tetapi tidak liar; ia menjadi alat yang mengokohkan iman, bukan meruntuhkannya. Inilah yang dimaksud dengan akal yang takluk karena sadar, bukan akal yang mati.
By: Andik Irawan