Seorang mukmin sejati tidak hanya menilai sesuatu dari tampilan lahiriah. Ketika ia melihat rumah mewah, mobil mewah, dan harta yang melimpah, ia bukan hanya kagum pada keindahan atau kecanggihannya, tetapi hatinya spontan teringat pada hisab — perhitungan nikmat yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.
Mengapa Muncul Perasaan Seperti Ini?
Ini tanda hati yang hidup dan sadar akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang: umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa harta adalah salah satu hal yang paling berat hisabnya. Karena itu, orang yang hatinya lembut akan otomatis merasa khawatir dan waspada ketika melihat fenomena kekayaan besar.
Bukan Iri, Bukan Dengki, Tapi Waspada
Perasaan ini bukan berarti mukmin harus membenci orang kaya atau menganggap semua kekayaan buruk. Justru ini bentuk kesadaran: kekayaan adalah amanah besar. Orang yang memanfaatkannya di jalan kebaikan akan mendapat pahala besar, tetapi orang yang menyalahgunakannya akan mendapat beban hisab yang berat.
Allah mengingatkan:
“Kemudian kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megahkan).” (QS. At-Takatsur: 8)
Maka wajar bila seorang mukmin yang hatinya hidup merasa ngeri, karena ia tahu betapa besarnya ujian dan pertanggungjawaban dari nikmat itu.
Bagaimana Menyikapi Perasaan Ini
- Jadikan perasaan itu sebagai cermin diri — bukan untuk menghakimi orang lain, tapi untuk mengingatkan diri sendiri agar berhati-hati terhadap nikmat yang kita punya.
- Doakan pemilik harta — agar ia diberi taufik menggunakannya di jalan Allah, karena bila benar digunakan untuk kebaikan, ia akan mendapat pahala yang sangat besar.
- Perkuat rasa syukur — syukuri nikmat yang kita miliki dengan menggunakannya sesuai perintah Allah dan menjauhi yang haram.
- Belajar zuhud yang seimbang — bukan anti-harta, tapi meletakkan harta di tangan, bukan di hati.
Kesimpulan Motivasi
Perasaan risi dan khawatir saat melihat fenomena harta melimpah adalah tanda hati mukmin yang sadar akhirat. Itu bukan iri atau sinis, tapi bentuk keimanan yang sehat. Ia menyadari bahwa semua nikmat akan dihisab, sehingga ia lebih berhati-hati dan lebih rajin beramal.
Orang beriman tidak memusuhi kekayaan, tapi memandangnya sebagai ujian besar. Jika lulus ujian itu, pahalanya juga besar. Jika gagal, hisabnya pun berat. Dengan kesadaran ini, seorang mukmin akan lebih fokus pada amanah hartanya sendiri, lebih berhati-hati, dan lebih rajin memohon ampunan serta pertolongan Allah agar dimudahkan bersyukur dan menggunakan nikmat sesuai kehendak-Nya.
By: Andik Irawan