Belajar dari Musibah Ponpes Al-Khozini: Niat Baik Tak Cukup, Harus Disertai Ilmu dan Tanggung Jawab
Musibah runtuhnya musholla di Pondok Pesantren Al-Khozini, Sidoarjo, beberapa waktu lalu menyisakan duka yang mendalam. Sebuah tempat ibadah, rumah suci tempat berdzikir dan belajar agama, justru menjadi lokasi terjadinya tragedi yang menelan korban jiwa.
Pertanyaan besar pun muncul di benak kita: mengapa hal seperti ini bisa terjadi?
Di balik peristiwa memilukan itu, terselip pelajaran penting tentang bagaimana niat baik harus selalu diiringi oleh ilmu, perencanaan, dan tanggung jawab teknis. Karena dalam pandangan Islam, setiap amal kebaikan yang dilakukan tanpa dasar ilmu dan kehati-hatian, berpotensi menimbulkan kerusakan — dan itu bukanlah bentuk kebaikan yang diridhai Allah.
🏗️ Bangunan Ibadah Juga Wajib Penuhi Regulasi
Sering kali kita mendengar ungkapan, “Yang penting niatnya ibadah.”
Namun dalam konteks pembangunan, niat baik saja tidak cukup. Negara ini memiliki aturan yang jelas tentang bagaimana sebuah bangunan, apalagi yang bertingkat, harus didirikan.
Regulasi tersebut tertuang dalam:
- Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)
- Serta Peraturan Daerah (Perda) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mengatur zona dan batas ketinggian bangunan di tiap daerah.
Aturan ini bukanlah untuk mempersulit, tetapi untuk menjaga keselamatan jiwa manusia.
Setiap bangunan dua lantai atau lebih wajib melalui analisis struktur, perhitungan kekuatan pondasi, serta pengawasan dari tenaga ahli bersertifikat. Ini bukan formalitas birokrasi, melainkan langkah nyata agar bangunan yang didirikan benar-benar aman bagi penggunanya.
⚠️ Fakta di Lapangan: Antara Semangat dan Ketidaktahuan
Sayangnya, dalam praktik di lapangan, masih banyak bangunan — termasuk musholla, pesantren, dan sekolah kecil — yang dibangun secara swadaya tanpa pendampingan teknis.
Keterbatasan dana, minimnya informasi, dan dorongan semangat gotong royong sering kali membuat masyarakat mengabaikan aspek struktur dan izin bangunan.
Akibatnya, kualitas material tidak terukur, pondasi tidak diuji, dan kekuatan bangunan tidak seimbang dengan beban di atasnya. Ketika hujan deras, tanah lembek, atau ada getaran, bangunan bisa kehilangan daya tahan. Maka, terjadilah musibah seperti yang menimpa Al-Khozini — bukan karena takdir semata, melainkan karena lalainya manusia dalam menjalankan sunnatullah di bidang teknik dan keselamatan.
💔 Hikmah dari Sebuah Musibah
Bagi seorang mukmin, setiap peristiwa, baik atau buruk, selalu mengandung pelajaran.
Musibah ini bukan sekadar tragedi, melainkan peringatan lembut dari Allah agar umat Islam tidak gegabah, agar setiap amal kebaikan disertai dengan ilmu dan tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah: 205)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah)
Ayat dan hadits ini menjadi dasar bahwa keselamatan adalah bagian dari ajaran agama.
Membangun rumah ibadah adalah amal besar, tetapi ketika dilakukan tanpa ilmu, tanpa keselamatan, justru bisa menjadi bentuk kezaliman yang tidak disadari.
🧭 Langkah Bijak ke Depan
Dari peristiwa ini, kita semua — masyarakat, pengelola pesantren, pemerintah daerah, hingga tenaga ahli — memiliki peran untuk memastikan hal serupa tidak terulang.
- Lakukan audit struktur bangunan pesantren dan musholla.
Pemeriksaan sederhana oleh ahli bisa menyelamatkan nyawa banyak orang. - Gunakan tenaga ahli bersertifikat, meski sederhana.
Banyak tenaga konstruksi di daerah siap membantu dengan biaya terjangkau atau melalui program pemerintah. - Ajukan izin resmi (PBG).
Dengan adanya izin, bangunan akan mendapat pengawasan dan tercatat secara legal. - Bangun kesadaran kolektif.
Bahwa beribadah bukan hanya di sajadah, tetapi juga di tanggung jawab menjaga keselamatan sesama manusia.
🌿 Penutup: Iman dan Ilmu Harus Berjalan Bersama
Tragedi Al-Khozini memberi pelajaran mendalam bahwa iman yang kokoh harus berjalan seiring dengan ilmu dan tanggung jawab.
Semangat membangun rumah Allah memang mulia, tetapi kemuliaan itu baru sempurna jika disertai dengan perencanaan yang aman, kuat, dan ilmiah.
Karena dalam pandangan Islam, amal yang baik bukan hanya yang diniatkan untuk Allah, tetapi juga yang membawa manfaat dan keselamatan bagi makhluk-Nya.
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Semoga setiap musholla, masjid, dan pondok pesantren di negeri ini berdiri kokoh — bukan hanya karena batu dan semen, tetapi karena fondasi ilmu, iman, dan tanggung jawab yang kuat.
By: Andik Irawan