Dakwah sejatinya adalah ladang suci — ladang tempat para pewaris nabi menanamkan kebenaran dan menuai hidayah.
Namun kini, di tengah gemerlap zaman digital, ladang itu mulai berubah bentuk.
Dari ruang pengabdian, menjadi ruang pertunjukan.
Dari upaya membimbing, berubah menjadi ajang mencari pengakuan.
Fenomena ini tampak jelas di hadapan kita:
banyak yang semangat berdakwah, tapi belum cukup ilmu.
Banyak yang pandai berbicara, tapi tidak paham apa yang dibicarakan.
Akhirnya, isi ceramah terdengar megah tapi hampa — tidak membumi, tidak menyentuh kebutuhan umat, bahkan kadang melenceng dari kebenaran.
1. Ketika Dakwah Tanpa Ilmu Menjadi Racauan
Ilmu adalah ruh dakwah.
Tanpa ilmu, dakwah hanyalah suara tanpa makna, bising tapi tak memberi arah.
Seorang da’i tanpa ilmu ibarat dokter baru belajar anatomi tapi sudah berani mengoperasi pasien.
Yang terjadi bukan kesembuhan, tapi luka yang semakin dalam.
Umat hari ini tengah dirundung banyak penyakit sosial:
riba menjalar hingga ke nadi ekonomi, suap menjadi budaya, kebohongan merajalela, moral merosot, dan nilai-nilai agama kian menipis.
Namun ironisnya, sebagian penceramah justru berbicara hal-hal ringan yang tak ada hubungannya dengan luka umat.
Yang disampaikan mungkin lucu, menghibur, bahkan viral — tapi tidak menyembuhkan.
Ibarat orang sakit mata, tapi diobati kakinya.
Lucu, tapi menyakitkan.
Dan di situlah letak kekonyolan yang mengundang iba: umat menderita, sementara sebagian da’i hanya sibuk berbicara demi popularitas.
2. Fenomena Ustadz Instan: Antara Gengsi dan Amanah
Fenomena ini muncul karena ambisi tampil lebih besar dari kesiapan ilmu.
Ada yang baru belajar sedikit, hafal satu dua ayat, lalu merasa cukup untuk berdiri di mimbar.
Tawaran berdakwah diterima di mana-mana, undangan dipenuhi tanpa seleksi tema, seolah berdakwah itu sekadar bicara, bukan tanggung jawab yang berat.
Padahal, dakwah bukan perlombaan tampil, melainkan amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berbicara tentang agama Allah tanpa ilmu, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini keras, tapi tegas — sebab berbicara atas nama agama tanpa dasar ilmu bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan pengkhianatan terhadap amanah kebenaran.
3. Umat yang Bingung Karena Bimbingan yang Salah Arah
Umat tidak butuh kata-kata indah, mereka butuh pencerahan yang membumi.
Mereka ingin tahu bagaimana menyembuhkan penyakit sosial, bagaimana keluar dari jerat riba, bagaimana membangun keluarga yang kokoh di tengah badai moral.
Namun sebagian penceramah justru sibuk dengan tema yang tidak menyentuh kebutuhan umat — berbicara di awan, padahal umat sedang berjalan di lumpur.
Yang terjadi, umat semakin bingung, semakin hampa.
Mereka mendengar ceramah, tapi tak menemukan arah.
Karena dakwah yang disampaikan tidak lahir dari ilmu yang mendalam, melainkan dari nafsu tampil dan selera pribadi.
4. Dakwah Adalah Amanah, Bukan Ajang Popularitas
Dakwah bukan soal berapa banyak yang menonton, tapi berapa banyak yang tercerahkan.
Bukan soal seberapa besar panggung, tapi seberapa dalam makna yang ditanamkan.
Bukan soal siapa yang paling sering tampil, tapi siapa yang paling tulus menyampaikan kebenaran.
Dakwah sejati menuntut ketekunan menuntut ilmu, keikhlasan hati, dan kesadaran bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.
Seorang da’i sejati lebih banyak menunduk daripada menunjuk, lebih banyak belajar daripada berdebat, dan lebih takut salah ucap daripada haus tepuk tangan.
Karena ia sadar, tugas da’i bukan membuat orang kagum, melainkan membuat orang sadar.
5. Kembalikan Dakwah ke Jalan Ilmu dan Hikmah
Umat hari ini tidak butuh ceramah yang viral, tapi bimbingan yang menyentuh akar masalah.
Mereka butuh da’i yang memahami realita — yang bicara dengan ilmu, dengan hikmah, dan dengan kasih sayang.
Seorang da’i sejati tahu: kebenaran tidak cukup disampaikan, tapi harus dihadirkan dalam kehidupan.
Maka, sudah saatnya dakwah dikembalikan ke jalannya yang lurus:
dari panggung ke pengabdian, dari gengsi ke keikhlasan, dari popularitas ke keberkahan.
Karena dakwah yang sejati bukan tentang siapa yang paling banyak bicara,
melainkan siapa yang paling dalam memahami dan paling ikhlas berbuat.
6. Penutup: Suara yang Membimbing, Bukan Menghibur
Dakwah bukanlah pertunjukan kata, melainkan seruan jiwa.
Setiap kalimat dalam dakwah harus lahir dari ilmu, disampaikan dengan hikmah, dan diarahkan pada kebutuhan nyata umat.
Tanpa itu, dakwah hanya menjadi gema kosong — nyaring di telinga, tapi mati di hati.
Maka wahai para da’i, sebelum melangkah ke mimbar, berhentilah sejenak di hadapan cermin ilmu dan niat.
Tanyakan pada diri:
Apakah aku berdakwah untuk Allah, atau hanya untuk dilihat manusia?
Karena sesungguhnya, satu kata benar karena ilmu lebih bernilai daripada seribu kata indah tanpa makna.
Dan umat hanya akan kembali tenteram,
jika dakwah kembali dihidupkan oleh orang-orang yang benar-benar berilmu, berakhlak, dan berhikmah.
Mereka yang berdiri di mimbar bukan untuk dihormati, tapi untuk mencerahkan.
By: Andik Irawan