Kebaikan yang Menjadi Profesi: Tanda Rusaknya Mental dan Moral Manusia Modern

Bagikan Keteman :


Kebaikan yang Menjadi Profesi: Tanda Rusaknya Mental dan Moral Manusia Modern

Salah satu kerusakan paling halus namun paling berbahaya dalam kehidupan manusia modern adalah ketika perbuatan baik berubah menjadi profesi, dan nilai-nilai luhur kehilangan keikhlasan. Banyak orang kini berbuat baik bukan lagi karena Tuhan, bukan pula karena panggilan nurani, melainkan karena benefit dan profit.

Kebaikan yang semestinya lahir dari hati, kini diatur oleh jadwal kerja, diukur oleh nominal, dan dibatasi oleh kontrak.

Mengajar Demi Gaji, Bukan Demi Cahaya

Ambil contoh profesi mengajar — sebuah pekerjaan mulia yang dulu dilakukan karena cinta ilmu dan kasih terhadap generasi muda. Namun kini, banyak yang menjadikannya sekadar sumber penghasilan.
Ia bersemangat mengajar di lembaga pendidikan, memberi nasihat moral kepada murid-muridnya, tetapi anaknya sendiri di rumah dibiarkan tumbuh tanpa bimbingan, tanpa pendidikan batin.
Mengapa demikian? Karena baginya mengajar bukan lagi panggilan jiwa, melainkan pekerjaan yang dihargai dengan gaji.

Inilah paradoks manusia modern: pandai mendidik banyak orang, tapi gagal mendidik keluarga sendiri; pandai bicara kebaikan, tapi tidak hidup dalam kebaikan itu.

Dari Ibadah Menjadi Industri

Dahulu, pekerjaan baik adalah ibadah — ladang untuk menanam pahala. Kini, pekerjaan baik berubah menjadi industri jasa moral. Segalanya bisa diukur dengan uang: mengajar, berdakwah, bahkan menolong sesama.
Tidak salah mencari nafkah dari kebaikan, tapi kesalahan besar terjadi ketika nafkah menjadi tujuan, dan Tuhan hanya menjadi alasan formalitas.
Beginilah tanda-tanda sekularisasi batin, ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa hidup adalah persembahan, bukan perlombaan.

Krisis Integritas: Ketika Kata dan Laku Tak Lagi Menyatu

Kerusakan moral modern juga tampak dari jurang yang lebar antara citra dan kenyataan.
Di depan publik, seseorang tampak saleh, lembut, dan penuh kepedulian. Namun di ruang pribadi, ia kering, dingin, dan abai terhadap orang terdekat.
Inilah yang disebut krisis integritas moral — kepribadian terbelah antara “yang terlihat” dan “yang sebenarnya”.
Ia pandai menasihati, tapi tidak mampu menasihati dirinya sendiri. Ia sibuk mengubah dunia, tapi lupa memperbaiki rumahnya.

Mengembalikan Ruh Keikhlasan

Jika manusia ingin kembali sehat secara moral dan spiritual, maka ia harus memulihkan orientasi hidupnya.
Bahwa pekerjaan hanyalah alat pengabdian, bukan sumber kehormatan. Bahwa mengajar bukan sekadar mencari nafkah, tapi menyebarkan cahaya. Bahwa membantu orang lain bukan mencari pujian, tapi menolong karena cinta.

Beberapa langkah kesadaran penting:

  1. Perbaiki niat sebelum berbuat. Lakukan kebaikan bukan karena terlihat, tapi karena Tuhan melihat.
  2. Selaraskan antara rumah dan publik. Jadilah guru sejati, yang bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah sendiri.
  3. Hargai kebaikan tanpa pamrih. Jangan menilai seseorang dari profesinya, tapi dari ketulusan hatinya.

Penutup: Kebaikan yang Tulus Tak Pernah Hilang

Kehancuran manusia modern bukan disebabkan oleh teknologi, tetapi oleh jiwa yang kehilangan keikhlasan.
Ketika kebaikan menjadi komoditas, maka kemanusiaan pun menjadi dagangan.
Namun selama masih ada satu hati yang berbuat baik tanpa pamrih, masih ada secercah cahaya yang mampu menyembuhkan dunia.

Karena sesungguhnya, kebaikan yang dilakukan karena Tuhan tidak pernah sia-sia — ia menembus batas waktu, melampaui semua bentuk profesi, dan menjadi jejak abadi di jalan kebenaran.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment