Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kita akal untuk berpikir dan hati untuk menimbang kebenaran.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa risalah kebenaran dan teladan kejujuran.
📱 Era Digital: Berkah dan Ujian
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kita hidup di zaman yang luar biasa — zaman di mana informasi menyebar lebih cepat dari cahaya.
Satu jari bisa mengirim kabar ke seluruh dunia.
Namun, di balik kemudahan ini, ada ujian besar: ujian kebenaran dan tanggung jawab.
Media sosial hari ini bisa menjadi sumber pahala besar bila digunakan untuk dakwah dan kebaikan,
tapi juga bisa menjadi sumber dosa besar bila digunakan untuk menyebar kebohongan, fitnah, dan ujaran kebencian.
⚠️ Bahaya Hoaks dan Ujaran Kebencian
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini sangat relevan untuk zaman kita sekarang.
Banyak orang menyebarkan berita tanpa tahu kebenarannya, hanya karena ingin terlihat paling tahu atau ingin cepat membagikan kabar.
Padahal akibatnya sangat berbahaya:
- Merusak nama baik orang lain,
- Menyulut emosi dan perpecahan,
- Menimbulkan kebencian antarkelompok, bahkan antaragama,
- Mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Allah ﷻ telah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ayat ini menjadi pedoman utama dalam bermedia sosial:
Teliti sebelum membagikan.
Jangan sampai jari kita menjadi sebab orang lain menderita.
🕊️ Dampak Sosial dari Hoaks
Hoaks bukan sekadar kebohongan kecil. Ia bisa menjadi api kecil yang membakar kedamaian masyarakat.
Berapa banyak kasus perkelahian, kerusuhan, dan fitnah besar bermula dari sebuah pesan singkat yang tidak benar?
Di sinilah pentingnya peran Da’i Kamtibmas:
Untuk menyadarkan umat agar bijak dalam bermedia, agar setiap jari yang menekan tombol “bagikan” disertai niat dan tanggung jawab moral.
💡 Cara Menjadi Muslim Bijak di Dunia Digital
- Tabayyun (verifikasi dulu) – Jangan langsung percaya, apalagi menyebarkan.
- Pikirkan akibatnya – Apakah kabar itu membawa kebaikan atau justru menimbulkan kerusakan?
- Gunakan media untuk dakwah dan kebaikan – Sebarkan ilmu, nasihat, dan inspirasi.
- Jaga lisan dan tulisan – Karena di era digital, jari adalah lisan kedua.
- Ingat bahwa setiap posting akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Kalimat ini kini bisa kita ubah maknanya menjadi:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menulis yang baik — atau jangan menulis sama sekali.”
🛡️ Menjaga Kamtibmas Lewat Dunia Maya
Umat Islam harus sadar, keamanan di dunia nyata juga bergantung pada keamanan di dunia maya.
Kabar bohong bisa menciptakan kepanikan.
Fitnah bisa memicu kebencian.
Namun kabar kebaikan bisa menyejukkan dan memperkuat persaudaraan.
Karena itu, mari kita jadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan perdamaian, bukan arena permusuhan.
🌺 Penutup: Jadilah Penebar Kebenaran
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Setiap jari kita akan bersaksi kelak di hadapan Allah.
Gunakanlah untuk menyebar kebenaran, bukan kebohongan.
Gunakanlah untuk menenangkan hati, bukan menyalakan api kebencian.
Mari kita jadikan diri kita sebagai penebar kebenaran dan penjaga kedamaian — baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Dengan begitu, kita bukan hanya menjaga diri kita, tapi juga menjaga keamanan masyarakat dan kemuliaan bangsa.
Semoga Allah meneguhkan kita dalam kebenaran, menjauhkan kita dari fitnah dan kebohongan, serta menjadikan kita bagian dari hamba-Nya yang menjaga kedamaian di bumi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
By: Andik Irawan