Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keamanan dan kedamaian adalah dua hal yang tidak ternilai harganya. Negeri yang makmur tidak selalu diukur dari kekayaan alamnya, tetapi dari seberapa damai dan rukun warganya hidup berdampingan.
Indonesia adalah negeri yang Allah karuniakan dengan keindahan dan keragaman. Ada ratusan suku, bahasa, adat, serta keyakinan yang hidup berdampingan di bawah naungan satu bendera, “Bhinneka Tunggal Ika” — berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Namun, keragaman ini bukan tanpa tantangan. Ia bisa menjadi sumber kekuatan, tetapi bisa juga menjadi sumber perpecahan, jika tidak dijaga dengan kebijaksanaan dan keimanan.
🌿 Islam Mengajarkan Toleransi dan Perdamaian
Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam telah mengajarkan prinsip hidup berdampingan dengan damai.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk saling mengenal dan menghargai.
Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh agama, suku, atau warna kulitnya, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ pun mencontohkan bagaimana seorang pemimpin bisa adil dan bijak kepada semua golongan. Ketika beliau memimpin Madinah, masyarakatnya tidak hanya beragama Islam. Ada Yahudi, Nasrani, dan berbagai kabilah Arab. Namun, Rasulullah menyatukan semuanya dalam Piagam Madinah — sebuah perjanjian sosial yang menegaskan hak dan kewajiban bersama, serta komitmen untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota Madinah.
Inilah bukti nyata bahwa kerukunan dan keamanan adalah bagian dari ajaran Islam.
Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya.
🤝 Kerukunan Adalah Pondasi Keamanan
Sebagai da’i Kamtibmas, kita memahami bahwa keamanan masyarakat bukan hanya tanggung jawab aparat kepolisian, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga negara.
Sebab, tidak akan ada keamanan tanpa kerukunan, dan tidak akan ada kerukunan tanpa sikap saling menghormati.
Bayangkan, jika setiap warga menahan diri dari ucapan yang menyakiti, dari postingan yang memprovokasi, dari prasangka yang memecah belah — betapa tenteramnya lingkungan kita.
Satu kata yang bijak bisa menyejukkan suasana, tapi satu ucapan kasar bisa menyalakan api perpecahan. Karena itu, menjaga lisan adalah bagian dari menjaga Kamtibmas rohani.
Allah ﷻ mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya…”
Ayat ini seolah berbicara kepada kita di zaman media sosial hari ini — verifikasi dulu sebelum menyebar, klarifikasi dulu sebelum berkomentar.
Karena banyak konflik sosial dan keonaran berawal dari berita bohong dan provokasi.
🌺 Mulai dari Diri Sendiri dan Lingkungan
Kerukunan tidak lahir dari seminar atau slogan, tetapi dari perilaku nyata sehari-hari.
Mulailah dari rumah — dengan saling menghormati tetangga yang berbeda keyakinan.
Mulailah dari desa — dengan gotong royong menjaga lingkungan tanpa memandang siapa dan dari mana.
Mulailah dari hati — dengan menanamkan rasa cinta damai sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Jika masyarakat rukun, maka keamanan akan kokoh.
Namun jika kerukunan rusak, maka sebesar apa pun kekuatan aparat, ketertiban sulit ditegakkan.
🌏 Penutup: Damai Itu Indah, Rukun Itu Ibadah
Mari kita jadikan desa, lingkungan, dan bangsa ini sebagai contoh kerukunan umat beragama.
Jadilah umat yang mencintai perdamaian, menghargai perbedaan, dan menebar kasih sayang.
Karena damai itu bukan sekadar kondisi, tapi ibadah sosial yang sangat dicintai Allah.
Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam iman, menjadikan lisan kita penyejuk, dan menuntun langkah kita menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga kedamaian negeri dengan iman dan akhlak.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
By: Andik Irawan