Andik Irawan, S.Pd.I- Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan persaudaraan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW — sang teladan yang selalu berdakwah dengan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dakwah adalah tugas mulia. Tapi dakwah juga bisa menjadi bumerang berbahaya, bila dilakukan tanpa kebijaksanaan, tanpa adab, dan tanpa tanggung jawab sosial.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik, atau diam.”
Artinya, setiap kata yang keluar dari lisan seorang da’i — apalagi disampaikan di hadapan umat — bukan sekadar kata, tapi api atau air, tergantung bagaimana ia disampaikan. Bila da’i berdakwah dengan hati yang bersih, ia akan menyejukkan masyarakat. Tapi bila da’i berdakwah dengan emosi, penuh kebencian dan caci maki, maka ia akan membakar kedamaian umat.
Hadirin sekalian,
Perhatikan fenomena hari ini.
Betapa sering kita saksikan masyarakat terbelah hanya karena perbedaan ustadz, perbedaan kelompok, atau perbedaan cara ibadah.
Padahal yang kita sembah satu, kitab kita satu, kiblat kita satu, Rasul kita juga satu.
Namun mengapa bisa saling mencaci, saling memblokir, saling mengkafirkan?
Jawabannya: karena sebagian da’i tidak lagi berdakwah dengan kebijaksanaan, tetapi dengan kebencian.
Dakwah seperti ini sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan Kamtibmas dari dalam.
Awalnya hanya beda pandangan, lama-lama jadi permusuhan.
Awalnya debat di majelis, lama-lama jadi bentrok di lapangan.
Dan semua itu bermula dari lisan seorang penceramah yang tak menjaga tanggung jawab moral dan sosialnya.
Saudaraku,
Ketika dakwah menjadi alat provokasi, ketika mimbar berubah menjadi panggung penghujatan,
maka sejatinya yang berbicara bukan da’i sejati, melainkan orang yang patut dicurigai sebagai perusak dari dalam — orang munafik yang berseragam agama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang munafik itu apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)
Mereka tampil seolah membela agama, tapi sejatinya memecah belah umat.
Mereka menyeru jihad dengan lisan, tapi hatinya mengundang fitnah.
Mereka mengaku membela tauhid, tapi menghancurkan ukhuwah.
Inilah penyakit berbahaya yang diam-diam bisa menghancurkan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Hadirin yang beriman,
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik.”
Ayat ini adalah peringatan keras.
Dakwah harus dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.
Jika dakwah kehilangan hikmah, ia tidak lagi menyatukan, tapi memecahkan.
Bukan menentramkan, tapi mengobarkan api permusuhan.
Dan bila ini terjadi, maka Kamtibmas akan rusak, keharmonisan hancur, dan umat tercerai-berai.
Saudaraku seiman,
Maka marilah kita waspada.
Bukan hanya waspada terhadap musuh dari luar, tapi juga terhadap perusak dari dalam, yang berselimut jubah agama namun menebar kebencian.
Mari kita dukung da’i-da’i yang sejuk, yang menebar kasih, bukan yang menebar amarah.
Mari kita rawat dakwah yang membangun, bukan yang menghancurkan.
Kamtibmas bukan sekadar urusan polisi atau aparat, tapi tanggung jawab setiap umat beragama.
Jika umat rukun, Kamtibmas kokoh.
Jika da’i berdakwah dengan hati, masyarakat tenteram.
Tapi jika dakwah berubah menjadi alat provokasi, maka kehancuran sosial tinggal menunggu waktu.
Semoga Allah menjadikan kita semua da’i-da’i penyejuk hati, penjaga kedamaian, dan perawat persatuan.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.