Andik Irawan – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam perjalanan hidup ini, kita sering menghadapi persoalan yang berada di luar kemampuan kita: penyakit yang tak kunjung sembuh, rezeki yang terasa sempit, tekanan hidup yang berat, atau masalah keluarga yang tidak selesai meski sudah diupayakan. Ada batas kemampuan manusia, dan setelah batas itu terlewati, kita harus belajar melepaskan, menyerahkan, dan meridhoi takdir Allah.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan cukupkan baginya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia keluar pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Maknanya jelas: ada saat di mana manusia harus bekerja keras, tetapi ada saat di mana manusia harus legowo, berhenti mencemaskan sesuatu yang memang berada di luar kuasanya.
1. Melepaskan masalah bukan berarti menyerah, tetapi menyerahkan kepada yang Maha Kuasa
Sakit yang sudah diobati namun belum sembuh bukan berarti kita kalah.
Rezeki yang sempit padahal sudah berusaha bukan berarti kita gagal.
Kadang Allah ingin kita berhenti memikul beban itu sendirian dan kembali kepada-Nya.
Melepaskan bukan berarti berhenti berusaha.
Melepaskan berarti tidak menjadikan masalah itu beban yang menggerogoti hati.
2. Beban pikiran yang dipaksa dipikul sendiri akan merusak ketenangan
Allah tidak ingin hamba-Nya hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan tekanan batin. Karena itu Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Jika sebuah urusan tidak mampu kita kendalikan, berarti memang bukan kita yang diberi tugas menyelesaikannya.
Inilah rahasia ketenangan hati: fokus hanya pada hal yang bisa kita lakukan, dan lepaskan yang tidak bisa kita kendalikan.
3. Kaitannya dengan Kamtibmas
Hadirin yang saya hormati,
Sikap pasrah terhadap hal-hal di luar kemampuan bukan hanya membuat hati tenang, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
a. Masyarakat yang terbiasa pasrah dan tawakkal tidak mudah gelisah dan tidak mudah marah
Ketika seseorang terlalu memikirkan masalah yang tidak mampu ia ubah, ia menjadi:
- stres,
- emosional,
- curiga berlebihan,
- mudah tersinggung.
Inilah yang sering menjadi pemicu konflik: pertengkaran antarwarga, percekcokan keluarga, bahkan tindakan kriminal.
Sebaliknya, orang yang terbiasa menyerahkan urusan kepada Allah memiliki jiwa yang stabil. Ia tidak meluapkan tekanan hidup kepada orang lain, sehingga lingkungan tetap aman.
b. Tawakkal mencegah keputusasaan yang menyebabkan kejahatan
Banyak tindakan kriminal terjadi ketika seseorang merasa hidupnya buntu:
merampok karena terhimpit utang, memfitnah karena iri rezeki orang lain, melakukan kekerasan karena stress menghadapi tekanan hidup.
Orang yang bertawakkal berkata:
“Ya Allah, aku sudah berusaha. Sisanya aku serahkan kepada-Mu.”
Ia tidak mencari jalan pintas yang merusak masyarakat.
c. Masyarakat yang tenang akan menciptakan suasana damai
Ketika masyarakat tidak memikul beban pikiran secara berlebihan, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak menyalahkan tetangga atas ujian hidupnya, maka:
- tidak ada keributan kecil,
- tidak ada konflik karena salah paham,
- tidak ada provokasi,
- dan terciptalah lingkungan yang kondusif.
Tawakkal bukan hanya ibadah hati, tetapi juga benteng Kamtibmas.
4. Penutup
Hadirin sekalian,
Belajarlah menyerahkan apa pun yang berada di luar kemampuan kita kepada Allah.
Lepaskan dari pikiran, jangan dijadikan beban, jangan dipaksa dipikirkan malam dan siang.
Karena ketika hati tenang, hidup menjadi damai.
Dan ketika hati damai, masyarakat pun aman.
Semoga kita semua menjadi hamba yang kuat berusaha namun pandai berserah.
Semoga Allah mengangkat setiap beban yang tidak mampu kita pikul, dan menjadikan lingkungan kita aman, tentram, dan penuh keberkahan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.