Terpukau oleh Kekayaan Dunia, Hilang separuh agamanya

Bagikan Keteman :

Andik Irawan – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak ibu jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita membahas sebuah tema yang sangat dalam: bahaya hati yang terpukau oleh kekayaan dunia.


1. Terpukau oleh Kekayaan = Hilangnya Separuh Agama

Dalam kehidupan, sering kita melihat seseorang yang begitu kaya raya: rumah megah, mobil mewah, usaha di mana-mana. Tanpa terasa hati kita berkata:
“Enaknya hidup seperti itu…”

Padahal Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras:

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.”
(HR. Tirmidzi)

Rasa terpukau, terpesona, bahkan iri terhadap harta orang lain adalah tanda lemahnya iman.
Bahkan ulama mengatakan:

Jika engkau terlalu mengagumi harta dunia, separuh agamamu telah hilang.

Mengapa?
Karena hati yang terpesona dunia tidak lagi takut pada Allah.
Ia mulai membangun standar hidup dengan dunia, bukan akhirat.


2. Agama yang Sempurna adalah Hati yang Takut pada Kenikmatan Dunia

Bapak ibu, orang beriman itu justru takut kalau hidupnya terlalu nyaman dan terlalu mewah.

Kenapa takut?

  • Karena semakin banyak nikmat, semakin berat hisab.
  • Karena harta adalah ujian, bukan prestise.
  • Karena kenikmatan dunia itu fana, namun pertanggungjawabannya kekal.

Allah mengingatkan kita:

“Kalian akan ditanya tentang nikmat yang kalian rasakan.”
(QS. At-Takatsur: 8)

Seorang mukmin, jika diberi kaya → ia takut hisabnya.
Jika diberi miskin → ia tenang karena ringan hisabnya.

Inilah tanda kesempurnaan iman:
Takut pada kenikmatan dunia, bukan terpukau olehnya.


3. Mengapa Terpesona Dunia Bisa Menghancurkan Kamtibmas?

Jamaah sekalian, kegaduhan sosial, kriminal, bahkan konflik antar warga sering bermula dari hati yang terpukau dunia.

Perhatikan:

a. Iri dan dengki → awal munculnya kejahatan

Orang yang terpesona harta orang lain perlahan menumbuhkan iri.
Iri menimbulkan dengki.
Dengki menimbulkan keinginan mencuri, merampas, menghasut, bahkan memfitnah.

Banyak kasus kriminalitas lahir dari kalimat:
“Mengapa dia bisa punya itu, sedangkan aku tidak?”

b. Keserakahan → dorong seseorang korupsi

Pegawai negeri, pejabat desa, bahkan tokoh masyarakat bisa jatuh pada korupsi karena terpukau dunia.
Ingin mobil seperti orang lain.
Ingin rumah seperti orang lain.
Ingin hidup “setara” dengan yang dipuji dalam media sosial.

Ini merusak kamtibmas dan keadilan sosial.

c. Kecemburuan sosial → potensi konflik antar warga

Ketika satu warga kaya baru pamer kekayaan, yang lain iri, muncul gesekan sosial.
Sebuah kampung bisa panas hanya karena perbandingan duniawi.


4. Solusi Kamtibmas: Didik Hati untuk Tidak Terpukau Dunia

Bagaimana masyarakat menjadi aman, damai, dan tidak mudah tersulut konflik?
Jawabannya hanya satu:

Bangun kesadaran bahwa dunia ini fana, dan akhirat yang kekal.

Jika hati seseorang teguh memandang akhirat:

  • Ia tidak iri pada orang kaya.
  • Ia tidak sombong ketika diberi nikmat.
  • Ia tidak mengejar dunia dengan cara haram.
  • Ia tidak korupsi, tidak mencuri, tidak menipu.
  • Ia hidup tenang, tidak menjadi pemicu keributan.

Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang aman, rukun, dan menjaga Kamtibmas.


5. Penutup

Jamaah sekalian,
Jika hari ini kita melihat orang kaya, mobil mewah, rumah megah — jangan terpukau.
Tinggikan standar kita kepada akhirat.

Karena:

  • Dunia memukau tapi fana.
  • Akhirat tidak terlihat tapi kekal.

Bagi orang beriman, lebih baik memiliki hati yang selamat daripada harta yang berlimpah.
Lebih baik aman di akhirat daripada bangga di dunia.

Semoga Allah jaga hati kita dari terpukau dunia, dan menjadikan lingkungan kita aman serta penuh keberkahan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Related posts

Leave a Comment