Islam Bukan Hanya Identitas: Saatnya Serius Menapaki Jalan Akhirat
Dalam ajaran Islam kita diajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat. Surga dan neraka adalah nyata. Maka seharusnya seorang Muslim berusaha sekuat tenaga menjauhi larangan Allah dan taat kepada-Nya. Namun kenyataan di lapangan berbeda: banyak orang yang sudah memeluk Islam tetapi tetap lalai, sembrono, kurang serius, bahkan seperti meremehkan perintah dan larangan Allah.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah mereka bodoh? Lemah akalnya? Ataukah kalah oleh hawa nafsu dan tipu daya setan? Jawabannya ternyata lebih dalam dan menyentuh hakikat manusia.
Manusia Diciptakan Lemah dan Mudah Lupa
Al-Qur’an menyebut bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah (QS An-Nisa: 28) dan pelupa. Kata “insan” sendiri dihubungkan dengan “nisyan” yang berarti lupa. Secara fitrah, manusia memang mudah lalai walaupun tahu kebenaran. Ia sibuk dengan urusan dunia, mudah terbawa arus, dan sering menunda kebaikan.
Pertarungan dengan Hawa Nafsu dan Setan
Setiap manusia punya hawa nafsu yang cenderung pada keburukan (QS Yusuf: 53) dan menghadapi godaan setan dari segala arah (QS Al-A’raf: 16–17). Sering kali kita bukan tidak tahu mana yang benar, tetapi tidak kuat menahan dorongan nafsu dan godaan setan. Inilah musuh yang tidak terlihat namun terus bekerja setiap saat.
Dunia Ini Ujian yang Menipu
Dunia bukan tujuan, melainkan tempat ujian. Al-Qur’an mengingatkan bahwa dunia hanyalah permainan dan tipuan (QS Al-Hadid: 20). Orang yang tidak menjaga kesadaran akan tertipu oleh kesenangan sesaat, merasa waktu masih panjang, dan menunda taubat.
Kurangnya Pemahaman dan Pembinaan Iman
Ada faktor eksternal yang ikut mempengaruhi: kurangnya pendidikan agama sejak kecil, lingkungan yang tidak mendukung, dan minimnya teladan yang baik. Akibatnya banyak Muslim hanya beragama secara identitas tetapi belum mendalami iman dan takwa secara serius.
Iman Naik Turun, Perlu Terus Diperbarui
Iman dalam Islam bukan sesuatu yang statis. Ia bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Karena itu seorang Muslim tidak boleh merasa aman. Ia harus terus memperbarui iman, mendekat kepada Allah, dan menjaga hati dari kelalaian.
Renungan Penutup
Fenomena kelalaian ini bukan semata-mata karena bodoh atau akal yang lemah, melainkan kombinasi dari fitrah manusia yang mudah lupa, hawa nafsu, godaan setan, lingkungan yang menyesatkan, serta kurangnya pembinaan iman. Karena itu Islam mengajarkan mujahadah (bersungguh-sungguh) dan muraqabah (merasa diawasi Allah) agar seorang Muslim tetap teguh.
Setiap kita pasti pernah lalai. Namun dengan menyadari kelemahan diri dan terus berjuang memperkuat iman, insya Allah kita bisa bangkit dan menjadi hamba yang lebih berhati-hati dalam menapaki jalan menuju akhirat.
By: Andik Irawan