Menghindari Iman Taklid: Membangun Keimanan yang Sadar dan Kokoh

Bagikan Keteman :


Menghindari Iman Taklid: Membangun Keimanan yang Sadar dan Kokoh

1. Pendahuluan

Islam tidak menginginkan pemeluknya beriman buta. Al-Qur’an berulang kali menegur orang yang mengikuti sesuatu tanpa ilmu (QS. Al-Isra: 36). Karena itu, seorang Muslim harus berusaha memahami mengapa ia percaya kepada Al-Qur’an dan kepada Rasulullah ﷺ, bukan sekadar ikut-ikutan.


2. Apa Itu Iman Taklid?

  • Definisi: Keyakinan yang hanya berdasarkan tradisi, doktrin, atau kebiasaan keluarga/lingkungan tanpa pemahaman dan bukti.
  • Sifatnya: Lemah, mudah goyah, dan tidak menghasilkan kesadaran sejati.
  • Pandangan ulama: Iman taklid tidak memberikan pahala sempurna; bahkan bisa berbahaya bila hanya diucapkan tanpa pengakuan sadar.

3. Mengapa Iman Taklid Berbahaya?

  • Goyah saat diuji: Mudah runtuh bila mendapat pertanyaan kritis atau godaan pemikiran.
  • Tidak membentuk kesadaran: Ibadah hanya ritual tanpa ruh.
  • Bertentangan dengan spirit Islam: Al-Qur’an memerintahkan umatnya berpikir, merenung, dan mencari kebenaran.

4. Jalan Membangun Iman Berdasarkan Ilmu

  • Pelajari Al-Qur’an secara langsung: Baca, pahami makna, telaah kandungannya.
  • Pelajari sejarah Nabi Muhammad ﷺ (sirah): Kronologi wahyu, kepribadian beliau, tantangan dakwah, dan bukti kejujurannya.
  • Gunakan akal sehat: Renungkan bagaimana mungkin Al-Qur’an muncul di tengah masyarakat Arab abad ke-7 yang buta huruf dan penuh konflik.
  • Perkuat hati dengan ibadah dan doa: Setelah akal menemukan bukti, hati dilatih untuk mantap.

5. Alur Kronologi Mengapa Muhammad Dipercaya Sebagai Rasul

  • Kepribadian sebelum kenabian: Muhammad dikenal sebagai al-Amin (yang terpercaya).
  • Turunnya wahyu Al-Qur’an: Tantangan untuk mendatangkan tandingan tidak pernah terjawab hingga kini.
  • Konsistensi dakwah selama 23 tahun: Tanpa mencari harta atau kekuasaan duniawi.
  • Perubahan dahsyat masyarakat: Dalam satu generasi lahir peradaban besar yang membawa ilmu, moral, dan hukum baru.
    Semua ini bisa diteliti melalui sejarah, manuskrip, dan kajian ilmiah.

6. Dari Pengetahuan Menuju Keyakinan

Setelah mempelajari dan menelaah bukti-bukti tersebut, seorang Muslim tidak lagi beriman “karena orang tua”, melainkan beriman karena kesadaran pribadi.
Itulah yang disebut iman yang muqarrar (kokoh) – iman hasil ilmu dan pemahaman, bukan sekadar warisan.


7. Ajakan Motivasi

Jangan puas dengan iman yang hanya ikut-ikutan. Islam adalah agama yang mengajak Anda menggunakan akal, hati, dan tindakan sekaligus. Baca Al-Qur’an, pelajari sirah Nabi ﷺ, renungkan kebenarannya, lalu bersyahadat dengan penuh kesadaran.
Inilah iman yang kuat, yang akan tegak menghadapi pertanyaan zaman modern, sekaligus membawa ketenangan hati.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment