Akal Terbatas, Wahyu Tak Terbatas: Cara Benar Mengenal Tuhan

Bagikan Keteman :


Akal Terbatas, Wahyu Tak Terbatas: Cara Benar Mengenal Tuhan

1. Fitrah Akal Manusia

Akal manusia adalah anugerah besar. Dengannya kita bisa membaca tanda-tanda, menemukan hukum alam, dan menyimpulkan sebab-akibat. Dengan akal pula kita menyadari bahwa alam semesta yang rapi dan teratur pasti ada Pengatur dan Pencipta.
Namun, di titik tertentu akal punya batas jangkauan. Ia hanya sampai pada kesimpulan “Tuhan itu ada”, tetapi tidak mampu menjangkau hakikat dan seluk-beluk-Nya.


2. Mengapa Akal Terbatas?

  • Akal bersifat terbatas ruang dan waktu: hanya mengenali yang terindra atau bisa diolah dengan konsep yang kita punya.
  • Tuhan bersifat transenden: melampaui ruang, waktu, dan kategori ciptaan.
  • Logika manusia berubah-ubah: kalau dibiarkan mencari sendiri hakikat Tuhan, hasilnya beragam dan saling bertentangan.

Maka wajar bila semua upaya “meneliti Tuhan” dengan akal murni melahirkan ribuan teori yang berbeda—dan akhirnya membingungkan.


3. Jalan Logis: Tuhan Memberitahu Tentang Diri-Nya

Kalau akal tidak mampu mengungkap seluk-beluk Tuhan, jalan paling logis adalah:

“Yang paling tahu tentang Tuhan hanyalah Tuhan sendiri. Maka jika Tuhan ingin kita mengenal-Nya, Dia harus memberitahu kita.”

Inilah konsep wahyu: informasi langsung dari Tuhan kepada manusia melalui nabi dan rasul. Dengan wahyu, manusia mendapat petunjuk pasti yang tidak bisa dijangkau akal sendiri.


4. Islam Menyediakan Petunjuk Itu

Dalam Islam, Tuhan berkenan memberitahu manusia tentang Diri-Nya, sifat-sifat-Nya, dan cara menyembah-Nya melalui wahyu yang diturunkan kepada para rasul—puncaknya Al-Qur’an yang dibawa oleh Muhammad ﷺ.

  • Akal berperan menguji kebenaran klaim wahyu.
  • Wahyu berperan mengajarkan apa yang akal tidak mampu capai.

Perpaduan inilah yang menghasilkan pengetahuan yang utuh: rasional sekaligus terarah.


5. Ajakan Motivasi

Gunakanlah akal untuk:

  • Menyadari keterbatasannya sendiri.
  • Menyimpulkan secara logis adanya Pencipta.
  • Memeriksa kebenaran klaim wahyu.

Setelah yakin, terimalah wahyu untuk memahami apa yang tidak terjangkau akal. Dengan begitu, kita tidak tersesat dalam spekulasi yang absurd, melainkan berjalan di atas petunjuk yang pasti.


Inilah cara sehat memahami keterbatasan akal dan peran wahyu: akal mengantarkan kita pada keyakinan adanya Tuhan, wahyu mengajarkan kita siapa Tuhan itu dan bagaimana berhubungan dengan-Nya.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment