Hidayah: Misteri Ilahi di Balik Kecerdasan Manusia
Dalam kehidupan manusia, sering muncul pertanyaan: mengapa ada orang yang sangat cerdas, jenius, dan berilmu tinggi, tetapi tetap saja tidak beriman? Mengapa sebaliknya, ada orang sederhana, bahkan dianggap biasa-biasa saja, justru hatinya lembut dan mudah menerima kebenaran? Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah hakikat besar: hidayah adalah misteri Ilahi, hak prerogatif Allah yang tidak bisa ditebak.
Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56). Ayat ini menjadi bukti nyata bahwa betapapun kuat usaha seseorang, pada akhirnya keputusan Allah-lah yang menentukan siapa yang berhak menerima cahaya petunjuk itu.
Kecerdasan Bukan Jaminan Iman
Sejarah banyak memberikan contoh nyata. Raja Namrud dikenal sebagai penguasa yang sangat cerdas sejak kecil, tetapi kesombongannya menutup pintu kebenaran. Kisah Dajjal juga menunjukkan bahwa kejeniusan tidak otomatis membuat seseorang beriman. Bahkan iblis, makhluk yang dulunya rajin beribadah dan bergaul dengan para malaikat, akhirnya terjerumus dalam kekafiran karena kesombongan.
Semua kisah itu memberi pelajaran penting: bukan kecerdasan otak yang menentukan seseorang mendapat hidayah, melainkan kebersihan hati dan kerendahan jiwa di hadapan Allah.
Hati Adalah Kunci
Akal memang penting sebagai sarana memahami tanda-tanda kebesaran Allah. Namun, jika hati sudah tertutup kesombongan, akal justru bisa menjadi alat untuk menolak kebenaran. Orang yang rendah hati akan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah, sementara orang yang sombong menggunakan ilmu untuk membenarkan penolakan mereka.
Di sinilah letak perbedaan besar: akal hanyalah pintu, tetapi hati adalah kunci.
Dua Jenis Hidayah
Para ulama menjelaskan bahwa hidayah terbagi menjadi dua:
- Hidayah Irsyad – yaitu petunjuk berupa ilmu, penjelasan, atau dakwah. Ini bisa diperoleh dari manusia, guru, kitab, atau pengalaman.
- Hidayah Taufiq – yaitu kekuatan untuk menerima, meyakini, dan istiqamah dalam kebenaran. Hidayah jenis ini murni hanya Allah yang memberikannya.
Nabi dan para ulama bisa memberi hidayah dalam arti irsyad, tetapi taufiq hanya Allah yang mampu menanamkan ke dalam hati.
Pelajaran Bagi Kita
Kisah-kisah tadi memberi peringatan bahwa kecerdasan bukanlah jaminan iman. Karena itu, kita perlu:
- Menjauhi kesombongan dan merasa cukup dengan ilmu.
- Selalu merendahkan hati di hadapan Allah.
- Senantiasa berdoa memohon hidayah taufiq agar tetap istiqamah di jalan kebenaran.
Hidayah memang misteri, tetapi satu hal yang pasti: Allah dekat dengan hati yang tulus mencari kebenaran, walau dari hamba yang paling sederhana sekalipun.
By: Andik Irawan