Tragedi Ponpes Al-Khozini: Saat Niat Baik Harus Berjalan Bersama Ilmu dan Tanggung Jawab
Musibah memilukan yang menimpa para santri di Pondok Pesantren Al-Khozini, Sidoarjo, mengguncang nurani bangsa.
Bangunan musholla yang seharusnya menjadi tempat sujud dan ketenangan, tiba-tiba roboh dan merenggut nyawa anak-anak yang tengah menuntut ilmu.
Sungguh duka yang dalam, duka yang tak boleh berlalu begitu saja.
Di balik peristiwa ngeri itu, kita harus berani bertanya dengan jujur:
Apakah ini murni takdir, atau ada kelalaian manusia yang selama ini kita abaikan?
🏗️ Niat Baik Tidak Cukup Tanpa Ilmu
Banyak pembangunan di negeri ini dimulai dengan semangat dan niat baik.
Kita ingin punya musholla, pesantren, atau madrasah yang megah — tempat anak-anak belajar agama dan menumbuhkan akhlak.
Namun sering kali, niat baik itu tidak diiringi ilmu, perencanaan, dan pengawasan yang benar.
Undang-undang kita sudah jelas: setiap bangunan, apalagi yang bertingkat, harus memenuhi standar keselamatan dan memiliki izin resmi (PBG).
Aturan ini bukanlah sekadar formalitas — tapi perlindungan terhadap nyawa manusia.
Namun sayang, semangat masyarakat sering kali mendahului ilmunya.
Bangunan berdiri tanpa perhitungan beban, tanpa tenaga ahli, tanpa izin.
Yang penting berdiri, yang penting cepat selesai, yang penting niatnya ibadah.
Padahal, ibadah tanpa ilmu bisa kehilangan keberkahannya.
Dan kebaikan tanpa kehati-hatian bisa berubah menjadi petaka.
⚠️ Kelalaian yang Tak Boleh Dianggap Biasa
Tragedi Al-Khozini adalah peringatan keras bagi kita semua.
Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk membangunkan kesadaran yang mungkin telah lama tertidur.
Kelalaian manusia dalam urusan keselamatan bangunan bukan hal sepele.
Itu adalah kelalaian terhadap amanah Allah, karena setiap jiwa adalah tanggung jawab yang besar.
Pemerintah juga tak boleh tinggal diam.
Musibah ini harus menjadi pelajaran nasional, agar seluruh bangunan pesantren, madrasah, dan musholla di seluruh Indonesia diperiksa ulang.
Harus ada audit keselamatan, pendampingan teknis, dan pengawasan nyata.
Keselamatan bukan hanya urusan arsitek dan insinyur — tapi juga urusan moral dan akhlak.
Karena di setiap dinding yang kita dirikan, ada nyawa dan harapan yang harus dijaga.
🌿 Keselamatan Adalah Bagian dari Iman
Islam tidak pernah memisahkan antara ibadah dan tanggung jawab.
Membangun rumah Allah tanpa memastikan keselamatannya sama dengan melupakan pesan suci dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap kecerobohan yang menimbulkan bahaya adalah bentuk kelalaian terhadap amanah Tuhan.
Rasulullah ď·ş juga bersabda:
“Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah)
Maka menjaga keselamatan bukan sekadar urusan duniawi — itu adalah bagian dari ibadah.
Keselamatan adalah bentuk kasih sayang kepada sesama, bentuk tanggung jawab terhadap karunia kehidupan yang diberikan Allah.
đź§ Bangkit dengan Kesadaran Baru
Musibah ini hendaknya menjadi cermin bagi kita semua.
Cermin untuk menilai sejauh mana kita benar-benar amanah dalam setiap pekerjaan yang kita niatkan untuk Allah.
Kita boleh bersedih, tetapi jangan berhenti di kesedihan.
Dari duka harus lahir tekad baru — tekad untuk beribadah dengan ilmu, bekerja dengan tanggung jawab, dan membangun dengan kesadaran.
Bagi para pengelola lembaga, jadikan ini panggilan untuk memperkuat perencanaan, untuk belajar dari ahli, untuk memastikan bahwa tempat belajar santri bukan hanya indah, tapi juga aman.
Bagi pemerintah, jadikan ini momentum untuk hadir lebih nyata, bukan hanya saat bencana, tapi saat pencegahan.
Dan bagi masyarakat, jadikan ini pengingat bahwa semangat gotong royong harus dibarengi kesadaran keselamatan.
🌙 Penutup: Iman, Ilmu, dan Amanah Harus Sejalan
Tragedi Al-Khozini adalah peringatan bahwa iman tanpa ilmu bisa rapuh, dan ilmu tanpa tanggung jawab bisa berbahaya.
Ketiganya — iman, ilmu, dan amanah — harus berjalan bersama, agar amal kita benar-benar membawa keberkahan.
Niat baik adalah benih,
ilmu adalah akar yang menguatkan,
dan amanah adalah batang yang menegakkan kebaikan itu agar berbuah manfaat bagi semua.
Semoga dari duka ini lahir kesadaran baru bagi kita semua —
kesadaran bahwa keselamatan bukan urusan duniawi semata, tapi bagian dari ibadah kepada Allah.
Dan semoga para santri yang menjadi korban mendapat tempat termulia di sisi-Nya,
sementara kita yang masih hidup diberi kekuatan untuk memperbaiki, merenungi, dan berbuat lebih bijak agar tragedi serupa tak lagi terulang.
By: Andik Irawan