Membaca kisah Qorun bukan sekadar mengenal sosok masa lalu yang tenggelam bersama harta bendanya. Ia adalah simbol abadi tentang bagaimana kekayaan bisa mengangkat seseorang setinggi langit — lalu menjatuhkannya ke jurang kehinaan.
Setelah memahami kisahnya secara mendalam, mata batin kita mulai peka; kita bisa melihat “bayangan-bayangan Qorun” hidup di sekitar kita, dalam wujud manusia modern yang terjebak dalam kebanggaan semu.
Cermin Qorun di Zaman Sekarang
Di sekeliling kita, tak sulit menemukan orang-orang yang — mungkin tanpa sadar — menampilkan sikap serupa Qorun.
Ucapan dan kelakar mereka sering bernada tinggi, menyindir kaum miskin dengan olok-olok halus, seakan-akan kemiskinan adalah aib dan kekayaan adalah tanda kecerdasan.
Mobil mewah, rumah megah, pakaian bermerk, dan gaya bicara yang menonjolkan status menjadi panggung pamer yang mengilap namun kosong dari makna.
Inilah cermin zaman: manusia tak lagi sekadar ingin hidup layak, tapi ingin terlihat lebih dari yang lain.
Padahal, seperti halnya Qorun berkata dengan angkuh,
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)
Ucapan itu bukan hanya kesombongan, tapi penolakan terhadap Tuhan. Ia menafikan bahwa setiap nikmat berasal dari Allah.
Dan ketika manusia mulai merasa “ini semua karena usahaku”, saat itulah langkah menuju jurang kehancuran dimulai.
Sulitnya Mencari Orang Kaya yang Tetap Rendah Hati
Zaman kini membuat kita sadar: orang kaya yang benar-benar rendah hati itu langka.
Bukan karena harta itu jahat, melainkan karena harta menguji watak sejati manusia.
Qorun sendiri, sebelum terjerumus, dikenal sebagai orang saleh.
Ia dahulu bagian dari kaum Bani Israil yang beriman, bahkan disebut sebagai ahli ibadah dan dermawan. Namun, ketika Allah memberinya limpahan kekayaan luar biasa, hatinya berubah.
Ia merasa lebih besar dari sesamanya, dan dari situ muncullah kesombongan yang akhirnya menghapus semua amal baiknya.
Inilah pelajaran pahit: harta bukan sekadar nikmat, tetapi ujian yang bisa merusak akhlak, bahkan menggoyahkan iman.
Tak sedikit orang yang semula ahli dakwah, lalu perlahan kehilangan keikhlasan ketika kemewahan mengetuk hatinya.
Sombong itu tak selalu muncul dalam bentuk perkataan kasar — kadang lewat gaya hidup, selera, cara tertawa, bahkan dalam cara memandang orang lain.
Mata Hati yang Terbuka
Apa yang kita lihat dari orang-orang semacam itu sebenarnya bukan sekadar perilaku sosial. Itu adalah pantulan moral — tanda bahwa Allah sedang membuka mata hati kita.
Orang yang telah memahami makna kisah Qorun akan cepat menangkap aroma kesombongan, sebagaimana seseorang yang mengenal kebajikan akan segera peka terhadap kejahatan yang halus.
Namun di titik inilah ujian bagi orang beriman:
Jangan biarkan kepekaan itu berubah menjadi kebencian.
Kita bukan hakim bagi mereka; kita adalah pengamat yang seharusnya belajar dari apa yang kita lihat.
Karena bisa jadi, tanpa sadar, kita pun memiliki “benih Qorun kecil” di dalam diri — rasa ingin dipuji, ingin dihormati, ingin tampak lebih beruntung dari orang lain.
Pelajaran dari Qorun untuk Kita Semua
Kisah Qorun mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukan harta, melainkan hati yang tunduk kepada Tuhan.
Allah menenggelamkan Qorun bukan karena ia kaya, tapi karena ia lupa kepada sumber kekayaannya.
Ia mengira dirinya pemilik, padahal ia hanya diberi titipan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, kemuliaan sejati bukan pada apa yang dimiliki, tapi bagaimana seseorang memperlakukan apa yang dimilikinya.
Harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk menolong, tapi bisa menjadi batu pemberat menuju neraka jika menjauhkan kita dari Allah.
Penutup: Doa dari Kisah Qorun
Kisah Qorun bukan sekadar sejarah; ia adalah peringatan yang hidup dalam setiap zaman.
Siapa pun bisa menjadi Qorun baru ketika hatinya sombong oleh nikmat dunia.
Maka, marilah kita berdoa:
“Ya Allah, jadikan aku kaya dalam hati, bukan dalam kesombongan.
Jangan jadikan aku seperti Qorun yang buta oleh nikmat-Mu.
Jika Engkau memberi rezeki, jadikan aku tunduk, bukan congkak.
Dan jika Engkau menahan, jadikan aku sabar, bukan putus asa.”
By: Andik Irawan