🌾 Harta, Pengakuan, dan Kesombongan yang Halus: Refleksi dari Kisah Qorun
Kisah Qorun dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita lama yang berakhir tragis. Ia adalah cermin abadi tentang manusia di setiap zaman — tentang hati yang berubah arah ketika diuji dengan kemewahan, dan tentang betapa halusnya kesombongan bisa menyelinap bahkan dalam ibadah yang tampak mulia.
Bila kita renungkan, Qorun dahulu bukanlah orang jahat. Ia dikenal berilmu, saleh, bahkan ahli kebaikan di awal kehidupannya. Namun ketika harta datang berlimpah, watak dalam dirinya yang selama ini tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Ia merasa besar, merasa berkuasa, dan akhirnya berkata dengan sombong:
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmuku.”
(QS. Al-Qashash: 78)
Begitulah harta — ia tidak mengubah watak manusia, melainkan memperkuat apa yang sudah ada di dalam hatinya.
🌱 Benih Watak Sejak Muda
Jika sejak muda seseorang tumbuh dengan kebencian terhadap kemiskinan — bukan karena ingin memperbaiki nasib, tapi karena menganggap miskin itu hina — maka sesungguhnya ia telah menanam benih kesombongan yang halus dalam jiwanya.
Ketika kelak ia diberi kekayaan, benih itu tumbuh menjadi pohon ego yang tinggi dan rindang. Ia menjadi orang yang sulit bersahabat dengan kesederhanaan, merasa tidak layak sejajar dengan orang biasa, dan hanya ingin bergaul dengan mereka yang sederajat secara materi.
Lambat laun, rasa benci terhadap kemiskinan berubah menjadi rasa bangga pada kemewahan.
Dan tanpa disadari, di dalam hatinya tumbuh keyakinan keliru: bahwa harga diri manusia ditentukan oleh jumlah hartanya.
Padahal, Allah telah mengingatkan:
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”
(QS. Al-‘Alaq: 6–7)
💎 Zakat dan Hausnya Pengakuan
Ada pula bentuk kesombongan yang lebih halus — tersembunyi di balik amal.
Kadang seseorang yang berharta menolak menyalurkan zakatnya melalui lembaga zakat, karena ia ingin menyalurkannya sendiri kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang di sekitarnya.
Alasannya bukan karena tidak percaya pada lembaga, tapi karena tak ingin kehilangan pengakuan.
Ia ingin dikenal sebagai dermawan, ingin disebut penolong, ingin dihormati oleh orang-orang di sekitarnya.
Ia merasa bila zakatnya disalurkan lewat lembaga, maka tak ada yang tahu, tak ada yang memuji, tak ada yang berterima kasih.
Padahal zakat adalah ibadah hati — bukan panggung nama.
Tujuannya bukan untuk dikenal, melainkan untuk menyucikan diri dan harta.
Allah berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)
Zakat yang dilakukan untuk mencari pengakuan sejatinya bukan menyucikan, tapi justru menodai kesucian amal itu sendiri.
🪞 Riya’ yang Lembut dan Nyaris Tak Terasa
Inilah yang disebut penyakit hati paling lembut — riya’ (ingin dilihat).
Ia hadir tanpa suara, tapi mematikan niat.
Seseorang mungkin terlihat sedang memberi, tapi di dalam hatinya ia sedang menuntut balasan berupa penghargaan dan rasa hormat.
Hasrat untuk diakui memang terasa manis.
Ia memberi rasa “berharga”, membuat kita merasa penting.
Namun manisnya itu palsu — karena ia menumbuhkan ketergantungan terhadap pujian manusia, bukan kepada ridha Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beramal untuk dilihat manusia, maka Allah akan menampakkannya (aibnya); dan barangsiapa beramal untuk didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Amal yang sejati adalah yang tetap tenang meski tidak diketahui siapa pun — sebab yang mengetahuinya hanyalah Allah.
🌿 Menjernihkan Hati dari Cinta Pengakuan
Tak ada manusia yang sepenuhnya lepas dari keinginan untuk dihargai. Itu sifat dasar yang wajar.
Namun yang berbahaya adalah ketika penghargaan manusia menjadi tujuan utama, dan ridha Allah hanya menjadi pelengkap.
Untuk menjernihkan hati dari cinta pengakuan, kita perlu melatih diri dengan amal-amal tersembunyi.
Memberi tanpa disaksikan, menolong tanpa nama, berbuat baik tanpa berharap balasan.
Sebab hanya amal yang tersembunyi yang mampu menjaga kemurnian niat dari riya’ dan kesombongan.
Dari sinilah seseorang akan memahami makna sejati dari keikhlasan — yaitu melupakan diri dalam setiap amal, dan mengingat hanya Allah dalam setiap kebaikan.
🌸 Harta yang Menyucikan, Bukan Menjerat
Harta bukan musuh manusia. Ia bisa menjadi sahabat menuju surga bila dikelola dengan syukur dan keikhlasan.
Namun bila disertai kesombongan dan haus pengakuan, ia akan menjadi jerat halus yang menjerumuskan pemiliknya ke dalam kebinasaan.
Qorun tidak binasa karena hartanya, tapi karena ia memperbudak dirinya sendiri kepada harta dan pengakuan.
Ia ingin dihormati, dikagumi, dan disanjung — hingga akhirnya tenggelam bersama ambisinya.
🌤️ Penutup: Doa agar Hati Tetap Bersih
Setiap manusia diuji dengan caranya masing-masing.
Sebagian diuji dengan kekurangan, sebagian dengan kelimpahan.
Namun ujian harta sering kali lebih berat, karena ia datang dengan wajah yang menyenangkan.
Maka marilah kita berdoa dengan hati yang tenang:
“Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan dan cinta pengakuan.
Jadikan harta kami sumber keberkahan, bukan kesia-siaan.
Ajarkan kami memberi dengan diam, dan berbuat baik tanpa ingin terlihat.
Karena Engkau Maha Melihat, walau tak seorang pun melihat.”
By: Andik Irawan