Ada masa di mana manusia tidak lagi takut berbuat dosa.
Riba dianggap kebutuhan, suap dianggap strategi, dusta dianggap kecerdikan, dan kemaksiatan telah berubah menjadi hiburan umum.
Ketika suara kebenaran muncul, ia tak disambut dengan rasa hormat, melainkan dengan cemoohan dan kebencian.
Bahkan, orang yang berpegang teguh pada kebenaran dianggap mengusik kenyamanan hidup orang lain.
Lalu muncul pertanyaan yang menggelisahkan hati setiap orang beriman:
“Apa yang harus kulakukan di tengah lingkungan yang sudah rusak seperti ini? Apakah aku harus menjauh?”
🌿 Makna Uzlah: Menyelamatkan Iman dari Fitnah Zaman
Uzlah bukan sekadar mengasingkan diri.
Uzlah adalah langkah perlindungan hati, cara menjaga iman agar tidak ikut tenggelam di tengah arus keburukan yang telah menjadi budaya.
Nabi ﷺ telah menggambarkan masa seperti ini:
“Akan datang suatu masa bagi manusia, di mana orang beriman tidak akan selamat kecuali dengan uzlah di puncak gunung, membawa kambingnya, menjauh dari fitnah.”
(HR. Bukhari)
Inilah hakikat uzlah: ketika kerusakan sudah terlalu dalam, ketika setiap nasihat dibalas dengan caci maki, maka menjauh bukan kelemahan — tapi pertahanan terakhir iman.
⚖️ Dua Wajah Uzlah: Fisik dan Hati
Para ulama menjelaskan bahwa uzlah memiliki dua bentuk:
1. Uzlah Fisik
Menarik diri secara jasmani dari lingkungan rusak.
Menjauh dari pergaulan yang menyesatkan, tempat penuh dosa, atau komunitas yang mempermainkan hukum Allah.
Seperti kisah Ashabul Kahfi — para pemuda yang rela bersembunyi di gua demi menyelamatkan iman mereka dari tirani kekafiran.
Mereka tidak lari karena takut, tetapi karena iman mereka terlalu berharga untuk dikorbankan.
2. Uzlah Hati
Bentuk yang lebih tinggi nilainya — menjauhkan hati dari keburukan, meski jasad masih berada di tengah masyarakat.
Kita tetap bekerja, berinteraksi, bermasyarakat, namun hati tidak ikut larut dalam kerakusan, kemunafikan, atau kebohongan.
Inilah uzlah sejati: tetap bersih di tengah lumpur.
⚠️ Paradoks Moral di Tengah Masyarakat Rusak
Ada hal yang lebih menyedihkan dari sekadar rusaknya moral, yaitu ketimpangan cara pandang terhadap dosa.
Kita hidup di zaman di mana riba, suap, dan kebohongan dianggap lumrah, bahkan dibungkus dengan istilah “strategi ekonomi”, “uang terima kasih”, atau “cara cerdas berbisnis”.
Namun anehnya, para pelaku dosa besar itu justru sok-sokan menolak maksiat lain seperti goyang erotis di panggung dangdut, tontonan musik, atau hiburan rakyat.
Mereka berteriak lantang, “Itu maksiat!” — seolah diri mereka suci, padahal tangan dan rekening mereka basah oleh riba dan suap.
Inilah paradoks zaman kita:
orang yang bergelimang dosa besar justru merasa suci karena tidak melakukan dosa kecil yang tampak di mata manusia.
Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, lebih besar dosanya di sisi Allah daripada tiga puluh enam kali berzina.”
(HR. Ahmad)
Artinya, dosa riba jauh lebih berat dibanding kemaksiatan lahiriah yang sering mereka hina.
Tetapi karena riba dan suap menghasilkan uang, maka dosa itu dianggap wajar; sementara hiburan rakyat yang tak menguntungkan kantong mereka dianggap dosa besar.
Beginilah rusaknya nurani saat standar dosa diukur dengan kepentingan dunia.
🌸 Kapan Uzlah Menjadi Pilihan Terbaik
Uzlah bukan pilihan pengecut, tapi jalan orang beriman yang ingin mempertahankan cahaya di tengah gelapnya zaman.
Ia menjadi sikap mulia ketika:
- Nasihat sudah tak lagi didengar, bahkan dibalas dengan kebencian.
- Lingkungan justru melemahkan iman dari hari ke hari.
- Dosa sudah dianggap budaya, dan pelaku kebenaran dianggap biang masalah.
- Jiwa mulai lelah mempertahankan nurani di tengah sorak-sorai kemunafikan.
Ketika semua pintu nasihat tertutup, maka menjauh adalah bentuk jihad sunyi.
🔥 Uzlah Bukan Lari, Tapi Bertahan
Imam Al-Ghazali berkata:
“Ketika pergaulan hanya membawa pada dosa, maka menyendiri lebih baik.
Namun bila pergaulan membawa manfaat, maka bergaullah dengan niat memperbaiki.”
Menjauh dari lingkungan rusak bukanlah bentuk keputusasaan, tapi pengakuan jujur atas keterbatasan diri.
Karena iman bukan baja — ia bisa berkarat bila terus bergesekan dengan kejahatan yang dibiarkan.
Maka, menjaga jarak bukan sombong, tapi cara menyelamatkan diri dari racun yang menular lewat kebiasaan.
🌤️ Penutup: Bertahan dengan Hati yang Tetap Lembut
Menarik diri bukan berarti membenci dunia, tapi menjaga jarak agar iman tidak ikut mati.
Karena iman adalah cahaya — dan cahaya tidak boleh padam hanya karena dunia di sekitarnya telah gelap.
“Ya Allah, lindungilah aku dari kesombongan orang berdosa,
dari kebutaan nurani di tengah fitnah dunia,
dan kuatkan aku untuk tetap jujur di tengah kebohongan yang dilegalkan.
Jika uzlah adalah jalanku, maka jadikan uzlah itu jalan yang menuntunku semakin dekat kepada-Mu.”
Uzlah bukan pelarian, tapi perlawanan dalam diam.
Dan di zaman ketika riba diagungkan, suap dimaklumi, dan kebenaran disingkirkan,
menyelamatkan diri dari kerusakan bukan tanda kelemahan — tapi tanda bahwa hati masih hidup dan takut kepada Tuhan.
By: Andik Irawan