Dunia Dakwah Itu Sangat Luas — Sentuhlah Hati, Jangan Hanya Telinga

Bagikan Keteman :

Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW — sang teladan agung dalam kelembutan, kasih sayang, dan ketulusan berdakwah.


Hadirin yang dirahmati Allah,
Sering kali kita memahami dakwah itu hanya sebatas ceramah, tausiyah, atau khutbah. Padahal, dunia dakwah itu sangat luas dan beragam.
Dakwah bukan hanya berbicara di atas mimbar, tapi juga menyentuh hati manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW berdakwah bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan yang menyentuh jiwa. Beliau menolong orang miskin, menjenguk orang sakit, mendamaikan orang yang bertengkar, memberi makan kepada yang lapar, dan memaafkan orang yang menyakitinya.
Inilah dakwah yang hidup, dakwah yang bukan hanya terdengar di telinga, tapi terasa di hati.


Saudaraku sekalian,
Sesungguhnya dakwah bisa hadir dalam berbagai bentuk:

  • Ada dakwah informatif, seperti ceramah, pengajian, khutbah, atau kajian kitab — yang menyampaikan ilmu dan pengetahuan agama.
  • Ada pula dakwah empatik, yaitu dakwah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat: membantu yang miskin, memberi sembako kepada janda tua, memperbaiki rumah yang hampir roboh, mendampingi warga yang sedang tertimpa musibah, mengobatkan yang sakit, bahkan membina keterampilan usaha agar mereka bisa mandiri.

Inilah dakwah yang menyentuh sisi kemanusiaan.

Sayangnya, saat ini banyak wilayah — terutama di pedesaan — dakwahnya baru didominasi oleh dakwah informatif belaka.
Ceramah ada, pengajian banyak, tapi dakwah yang benar-benar menyentuh hati, yang turun langsung ke tengah masyarakat, masih sangat kurang.


Hadirin yang dirahmati Allah,
Padahal manusia tidak hanya butuh nasihat untuk telinga, tapi juga butuh perhatian untuk hati.
Ada orang yang tidak bisa lagi mendengar ceramah karena perutnya lapar.
Ada janda tua yang tidak bisa hadir ke pengajian karena rumahnya bocor.
Ada pemuda yang kehilangan semangat hidup karena tak ada yang merangkulnya.
Mereka semua butuh dakwah sentuhan hati, bukan hanya dakwah kata-kata.

Maka wahai para da’i, para ustadz, para penggerak dakwah — turunlah ke lapangan.
Masuklah ke lorong-lorong kehidupan umat.
Dengarkan keluh kesah mereka, bantu mereka, temani mereka.
Kadang satu senyuman tulus dan satu genggaman tangan lebih bermakna daripada seribu kata ceramah.


Saudaraku,
Inilah dakwah yang sejati. Dakwah yang membawa kedamaian, memperkuat ukhuwah, dan menjaga Kamtibmas.
Sebab, masyarakat yang merasa diperhatikan akan menjadi masyarakat yang tenang.
Warga yang merasa dibimbing dan dibantu akan menjadi warga yang taat dan peduli pada lingkungan.
Dan ketika umat bersatu dalam kebaikan sosial, keamanan dan ketertiban akan tumbuh dengan sendirinya.


Hadirin yang berbahagia,
Mari kita perluas makna dakwah.
Mari kita ubah cara pandang: bahwa dakwah bukan hanya soal bicara, tapi soal berbuat nyata.
Kata bisa didengar, tapi perbuatan bisa dirasakan.
Dan jika umat sudah bisa merasakan kasih dan kepedulian dari dakwah, maka insya Allah, Kamtibmas akan tegak kokoh, karena hati-hati umat telah saling terhubung.



Semoga kita semua menjadi bagian dari para da’i dan pejuang dakwah yang tidak hanya pandai berbicara, tapi juga pandai mengasihi.
Tidak hanya bisa memberi nasihat, tapi juga bisa memberi manfaat.
Karena di situlah letak keberkahan dakwah — ketika ia menjadi jalan untuk menyejukkan hati dan memperkuat kedamaian di tengah masyarakat.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Related posts

Leave a Comment