Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW — sang pembawa cahaya kebenaran yang tidak pernah takut menyampaikan kebenaran, walau dihadang oleh kebencian manusia.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kita patut bersyukur, saat ini dakwah semakin ramai. Di mana-mana ada ceramah, pengajian, kajian, tabligh, dan majelis ilmu.
Itu semua tanda bahwa umat Islam masih hidup dan cinta pada agamanya. Namun, di balik semarak itu, ada ironi besar yang harus kita renungkan bersama.
Banyak da’i hari ini bersemangat mengajak kepada kebaikan, tapi sedikit sekali yang berani mengajak menjauhi kemungkaran.
Mereka lantang berbicara tentang surga, pahala, dan amal saleh, tapi jarang sekali berani menyentuh persoalan riba, suap, korupsi, maksiat, dan ketidakadilan.
Padahal, dua-duanya — amar ma’ruf dan nahi munkar — adalah satu paket kewajiban dalam Islam.
Saudaraku sekalian,
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.”
Lihatlah, ayat ini menyebut dua hal secara seimbang: menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Namun apa yang terjadi hari ini?
Kita hanya menunaikan separuh dari ayat itu.
Kita sibuk mengajak orang berbuat baik — tapi diam saat melihat kebatilan merajalela.
Mengapa?
Karena mengajak pada kebaikan tidak berisiko, tapi mencegah kemungkaran butuh nyali.
Mengajak orang shalat itu aman, tapi menegur pejabat yang zalim bisa dibenci.
Mengajak sedekah itu mudah, tapi mengingatkan agar menjauhi riba atau suap bisa dianggap mengganggu kepentingan.
Inilah ironi dakwah masa kini.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Padahal, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya — dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Rasulullah tidak hanya memerintahkan amar ma’ruf, tapi juga menegaskan kewajiban nahi munkar.
Kalau umat hanya pandai berkata lembut di depan kebaikan, tapi diam di depan kemungkaran, maka lambat laun, kemungkaran akan menjadi biasa, bahkan dianggap benar.
Dan ketika kemungkaran sudah dianggap biasa — riba merajalela, suap jadi budaya, maksiat jadi tontonan, kebohongan jadi permainan — maka Kamtibmas akan hancur.
Hilang keadilan, sirna kejujuran, lenyap kepercayaan antarwarga.
Masyarakat yang kehilangan moral, akan kehilangan keamanan.
Saudaraku,
Maka hari ini kita perlu melahirkan kembali da’i-da’i pemberani,
yang bukan hanya berani di atas mimbar, tapi juga berani berkata benar di tengah kebatilan.
Yang bukan hanya pandai memotivasi, tapi juga berani memperingatkan.
Karena tugas da’i sejati bukan mencari aman, tapi menyelamatkan umat.
Memang benar, berbicara kebenaran itu berisiko.
Tapi diam terhadap kebatilan jauh lebih berbahaya — bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi seluruh masyarakat.
Hadirin yang beriman,
Ingatlah sabda Rasulullah SAW:
“Jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Itulah dakwah sejati — dakwah yang bernilai jihad.
Dan kalau para da’i, tokoh agama, dan masyarakat mau bersatu menyuarakan kebenaran dengan hikmah dan keberanian,
maka kemungkaran akan surut, keadilan akan tegak, dan Kamtibmas akan kuat.
Mari kita jadikan diri kita bukan hanya pengajak kebaikan, tapi juga penolak kemungkaran.
Bukan hanya da’i di lisan, tapi da’i di hati dan tindakan.
Karena masyarakat akan aman bukan hanya karena banyak ceramah, tapi karena ada suara kebenaran yang berani berdiri di tengah kebatilan.
Semoga Allah SWT memberikan kita keberanian, kebijaksanaan, dan keikhlasan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang bijak, santun, dan berani.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.