Meyakini Agama Pilihan sebagai yang Paling Benar, Sambil Tetap Menghormati Keyakinan Orang Lain

Bagikan Keteman :

Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini mari kita renungkan satu prinsip penting dalam kehidupan beragama, yaitu kewajiban meyakini bahwa agama pilihan diri adalah agama yang paling benar, namun dalam waktu yang sama menghormati keyakinan agama orang lain. Dua hal ini bukan bertentangan, justru keduanya adalah ciri kedewasaan iman dan modal utama terciptanya Kamtibmas.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia lahir dengan akal, hati, dan kebebasan. Dan salah satu kebebasan paling mendasar yang diberikan Tuhan adalah kebebasan memilih keyakinan. Karena itulah agama disebut sebagai hak asasi paling azasi. Tidak boleh ada paksaan, tidak boleh ada tekanan, tidak boleh ada intimidasi. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya berdasarkan pencarian dan kesadaran.

Namun bersamaan dengan itu, ketika seseorang telah memilih sebuah agama melalui pencarian yang jujur, berdasarkan akal sehat dan ketenangan hati, maka ia wajib meyakini agamanya adalah kebenaran tertinggi.
Ini penting, karena agama tanpa keyakinan yang kuat hanya akan melahirkan kelemahan, keraguan, dan mudah terombang-ambing.

Tetapi ingat—keyakinan kita bahwa agama kita benar tidak otomatis berarti agama orang lain salah dalam pandangan mereka, dan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau memusuhi mereka. Karena yang diperintahkan adalah mantap pada keyakinan sendiri, tanpa mengganggu hak orang lain untuk meyakini apa yang mereka yakini.

Hadirin sekalian,
Umat beragama yang matang adalah umat yang memiliki prinsip ini:
“Agamaku adalah kebenaran bagiku, agamamu adalah kebenaran bagimu.”
Dengan sikap ini, kita hidup rukun tanpa harus melemahkan identitas iman masing-masing.

Inilah nilai yang sangat relevan untuk menjaga Kamtibmas.

Coba bayangkan,
Jika masyarakat memaksakan keyakinan kepada orang lain, apa yang terjadi?
• muncul konflik,
• muncul perpecahan,
• muncul kekerasan,
• bahkan muncul tindakan yang mengancam nyawa dan keamanan.

Tapi jika masyarakat memahami dua prinsip besar ini—mantap dengan iman sendiri, dan menghormati iman orang lain—maka kehidupan akan damai.
Karena yang kuat bukan hanya keamanan fisik, tetapi juga keamanan pikiran dan perasaan.

Saudaraku,
Untuk bisa sampai pada sikap dewasa seperti ini, seseorang harus beragama dengan kesadaran, bukan hanya ikut-ikutan, bukan hanya karena lahir dari keluarga tertentu. Orang yang beragama tanpa pemahaman mudah tersinggung, mudah salah tafsir, dan mudah diprovokasi. Namun orang yang beragama dengan ilmu adalah orang yang tenang, moderat, dan bijaksana.

Itulah sebabnya, dalam konteks Kamtibmas, pendidikan agama yang benar dan penuh kesadaran sangat penting. Bukan sekadar ritual, tetapi pemahaman yang membentuk karakter yang toleran, kuat, dan beradab.

Hadirin yang saya hormati,
Marilah kita tanamkan dalam diri masing-masing bahwa:

  1. Keyakinan diri harus tegak, karena inilah fondasi spiritual kita.
  2. Penghormatan kepada keyakinan orang lain juga wajib, karena inilah fondasi sosial kita.
  3. Kesadaran beragama adalah kunci, karena tanpa kesadaran, agama menjadi rapuh.
  4. Dan sikap dewasa beragama adalah pilar penting terciptanya Kamtibmas yang harmoni.

Akhirnya, mari kita berdoa agar kita menjadi hamba yang mantap imannya, lembut sikapnya, dan bijaksana dalam berinteraksi, sehingga kita menjadi bagian dari masyarakat yang menjaga keamanan, ketertiban, serta persaudaraan di negeri ini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Related posts

Leave a Comment