Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang saya hormati para tokoh masyarakat, aparat desa, dan seluruh warga yang hadir.
Hadirin sekalian,
Dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, kita sering bicara tentang masalah fisik: pencurian, perkelahian, dan kejahatan lain yang terlihat oleh mata. Padahal ada satu “kejahatan” yang jauh lebih berbahaya, lebih menyakitkan, dan dampaknya bisa seumur hidup. Itulah yang disebut pembunuhan karakter.
Pembunuhan karakter adalah saat seseorang merusak nama baik orang lain, mencemarkan reputasinya, mengotori kehormatannya, hingga orang tersebut kehilangan kepercayaan masyarakat.
Dan tragisnya, perbuatan dzolim ini sering dimulai dari penyakit hati:
– hasud,
– iri,
– dengki,
– tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat.
Ketika hati dikuasai iri, maka bisikan buruk mulai muncul. Si pendengki tidak tahan melihat kebaikan saudaranya, lalu mulai membuat frame jelek, menciptakan cerita-cerita negatif, dan melemparkan fitnah untuk menjatuhkan orang yang ia benci.
Awalnya mungkin hanya bisik-bisik, lalu berubah menjadi gibah, kemudian berkembang menjadi fitnah, hingga akhirnya satu kampung ikut termakan. Orang yang tadinya dihormati tiba-tiba menjadi buruk di mata banyak orang hanya karena cerita-cerita yang tidak benar.
Hadirin sekalian,
Ini adalah kezaliman luar biasa besar.
Mengapa?
Karena nama baik adalah kehormatan.
Dan ketika kehormatan dirusak, itu lebih menyakitkan daripada mematahkan tulang, lebih menyiksa daripada kehilangan harta. Bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa kehormatan seorang muslim adalah suci seperti darahnya.
Yang lebih ngeri lagi, pembunuhan karakter adalah dosa yang bekasnya sangat lama, bahkan bisa seumur hidup.
Orang yang difitnah mungkin sudah memaafkan, tapi masyarakat tidak mudah melupakan. Nama baik yang sudah hancur tidak mudah pulih. Ia harus menanggung rasa malu, rasa curiga dari orang lain, dan kehilangan posisi di masyarakat akibat dosa orang lain.
Ini bukan hanya merusak individu, tapi juga menghancurkan Kamtibmas.
Ketika masyarakat diadu domba dengan fitnah, maka:
– hubungan antar warga renggang,
– musyawarah terpecah,
– persatuan hancur,
– dan keamanan desa terganggu.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Maka jauhilah sejauh-jauhnya perilaku keji ini.
Bukan hanya karena dosa besarnya, tetapi karena akibat sosialnya begitu dahsyat.
✔ Jangan mudah menyebarkan kabar buruk
✔ Jangan menjadi corong fitnah
✔ Jangan menilai seseorang hanya dari cerita sepihak
✔ Jangan menjadi bagian dari perusak nama baik sesama
✔ Sebaliknya, jadilah penyejuk dan penyeimbang
Jika ada berita buruk tentang seorang warga, tabayyun dulu.
Kalau tidak tahu kebenarannya, diam itu lebih selamat.
Kalau ada orang mulai menghasut, jangan ikut mendengar.
Karena di dunia ini, mungkin seseorang bisa selamat dari hukuman manusia… tetapi di hadapan Allah, dosa merusak nama baik saudara akan dituntut satu per satu sampai tuntas.
Penutup,
Marilah kita jaga lingkungan kita dari virus fitnah dan pembunuhan karakter. Kita ingin desa yang aman, rukun, dan penuh persaudaraan. Maka mulailah dengan menjaga hati dan lisan dari kedzaliman.
Semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit iri dan dengki, serta menjaga nama baik kita dan nama baik seluruh warga.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.