Kisah Orang Sholeh yang Buta Hati Karena Harta

Bagikan Keteman :

Andik Irawan – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam sejarah Islam, kita mengenal dua nama yang menjadi pelajaran besar tentang hati manusia di hadapan harta: Qorun dan Sa’labah. Keduanya dulu dikenal sebagai pribadi baik, sederhana, bahkan tekun beribadah. Namun setelah Allah lapangkan rezeki mereka, sesuatu dalam hati berubah. Mereka tidak lagi melihat harta sebagai amanah, tetapi sebagai bukti “kehebatan diri”.

1. Qorun — Dari ahli ibadah menjadi ahli kesombongan

Qorun adalah orang yang awalnya berilmu, beribadah, dekat dengan kaumnya. Namun ketika Allah memberinya kekayaan melimpah, hatinya berubah. Ia berkata:

“Aku mendapatkan harta ini semata-mata karena ilmuku.”

Kalimat sederhana, tapi isinya kesombongan yang dalam. Ia merasa pencapaian adalah hasil hebatnya pribadi, bukan lagi karunia Allah. Dari sinilah matanya buta—bukan buta fisik, tapi buta hati. Ia tidak lagi melihat orang miskin, tidak lagi menghargai kaumnya, dan akhirnya Allah tenggelamkan ia bersama hartanya.

2. Sa’labah — Dari rajin ibadah menjadi lupa diri

Sa’labah adalah contoh lain. Ketika hidup miskin, ia rajin ibadah, taat, dan sangat dekat dengan Nabi. Namun ia meminta kepada Rasulullah agar didoakan mendapat kekayaan. Setelah hartanya melimpah, sikapnya berubah:

  • Mulai jarang ke masjid
  • Mulai menunda zakat
  • Bahkan menghindar dari perintah agama yang dulu ia bela

Harta bukan hanya mengubah gaya hidupnya, tetapi juga mengubah isi hatinya. Ia haus validasi, ingin dipuji sebagai orang sukses, dan lupa bahwa semua itu hanyalah titipan.

Pelajaran untuk kita

Hadirin sekalian, dua kisah ini mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar bukan miskin, tapi berubah ketika kaya.
Bukan kemiskinan yang menyesatkan, tapi harta yang membuat kita lupa diri.
Ketika hati mulai merasa “ini hasil kerja keras saya”, bukan karunia Allah, saat itulah kesombongan tumbuh, dan hati menjadi buta.

Kaitan dengan Kamtibmas

Bapak-Ibu sekalian, kesombongan dan haus validasi bukan hanya merusak pribadi, tetapi juga merusak stabilitas lingkungan.

1. Orang yang sombong ketika kaya menciptakan kecemburuan sosial.
Memamerkan harta, menghina yang miskin, menolak berbagi, atau bersikap meremehkan akan memicu rasa tidak aman, iri, dan permusuhan.
Lingkungan seperti ini sangat rawan konflik horizontal.

2. Orang yang berubah menjadi pelit setelah kaya mengganggu keseimbangan sosial.
Ketika masyarakat melihat ketidakadilan, mereka merasa tidak dihargai. Dari sinilah muncul tindakan nekat: pencurian, perlawanan, dan kekerasan. Bukan karena ingin kriminal, tapi karena putus asa melihat ketimpangan yang menyakitkan.

3. Orang yang buta hati karena harta cenderung mengambil jalan haram.
Ketika harta menjadi Tuhan, maka:

  • suap dianggap biasa
  • manipulasi data dianggap kepintaran
  • merugikan orang lain dianggap strategi
  • kemewahan dijadikan ukuran kehormatan

Perilaku ini secara langsung mengancam Kamtibmas, karena kejahatan berawal dari hati yang gelap.

4. Kamtibmas yang stabil lahir dari masyarakat yang rendah hati.
Ketika seseorang tetap rendah hati meski kaya, tetap bersahaja meski berjaya, maka ia menjadi penyejuk lingkungan. Sikapnya meredam iri, mematikan bibit konflik, dan menjaga harmoni sosial.

Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,
Kisah Qorun dan Sa’labah bukan dongeng lama. Ia cermin bagi kita hari ini:
Apakah harta membuat kita semakin dekat kepada Allah atau malah semakin jauh?
Apakah rezeki membuat hati lembut atau justru membuat hati mengeras?

Mari kita tanamkan:
“Ya Allah, jika Engkau beri aku harta, maka jangan Engkau butakan hatiku.”
Karena ketenangan masyarakat, keamanan lingkungan, dan harmoni Kamtibmas dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh harta.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Related posts

Leave a Comment