Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak Ibu, hadirin yang dirahmati Allah,
Jika hari ini kita ditanya: “Engkau ingin hidup sederhana atau hidup kaya raya?”
Maka hampir semua orang, tanpa berpikir panjang, akan menjawab: ingin hidup kaya raya.
Ini manusiawi. Ini wajar. Karena setiap manusia memiliki nafsu, keinginan, dan imajinasi kenyamanan hidup.
Tetapi bagi orang beriman—yang memahami bahwa harta bukan sekadar nikmat, melainkan ujian berat—maka jawabannya sering berbeda. Orang beriman lebih memilih hidup yang sederhana namun berkah, daripada hidup kaya namun penuh hisab yang mengerikan di akhirat.
1. Harta itu nikmat, tapi juga ujian
Allah berfirman:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu.”
(QS. At-Taghabun: 15)
Artinya, semakin besar harta yang kita miliki, semakin besar pula beban tanggung jawabnya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia membelanjakannya.”
(HR. Tirmidzi)
Karena itulah orang beriman sering kali berkata:
“Ya Allah, jika Engkau beri aku kekayaan, maka kuatkan aku. Tapi jika Engkau tahu hatiku tak sanggup, maka cukupkanlah aku dengan kesederhanaan.”
2. Mengapa orang beriman memilih hidup sederhana?
Sebagian manusia memilih kekayaan karena dorongan nafsu:
- ingin dipuji
- ingin dihargai
- ingin terlihat sukses
- ingin dianggap lebih tinggi dari yang lain
Namun orang beriman yang matang hatinya tahu bahwa harta itu bisa membutakan.
Semakin banyak harta, semakin besar godaan:
- sombong
- bakhil
- meremehkan orang miskin
- cinta dunia
- lupa akhirat
Maka orang beriman lebih memilih hidup sederhana bukan karena malas, tetapi karena memahami beratnya hisab di akhirat.
3. Kaitan dengan Kamtibmas
Hadirin sekalian, di sinilah kita masuk pada pelajaran penting untuk keamanan dan ketertiban masyarakat.
a. Obsesif terhadap kekayaan bisa memicu kejahatan
Ketika seseorang terlalu takut miskin, atau terlalu terobsesi ingin kaya:
- ia mudah tergoda korupsi
- ia berani menipu
- ia melakukan pencurian
- ia melakukan kekerasan demi uang
- ia mudah menerima suap
Sumber gangguan Kamtibmas sering kali berasal dari hati manusia yang tidak siap untuk hidup sederhana.
b. Orang sederhana biasanya lebih damai
Orang yang siap hidup sederhana memiliki hati yang lapang:
- tidak iri kepada orang lain
- tidak memaksakan gaya hidup
- tidak memikirkan validasi sosial
- tidak memancing kecemburuan sosial
Orang seperti ini menciptakan lingkungan yang aman, teduh, dan jauh dari konflik.
c. Orang kaya yang tidak kuat iman justru bisa jadi sumber keresahan
Ketika orang kaya:
- memamerkan kekayaan,
- menghina orang miskin,
- bersikap arogan,
- berbuat semena-mena,
maka lingkungan akan terganggu. Muncul iri, dendam, kecemburuan sosial, dan potensi kriminalitas.
Inilah mengapa kematangan hati lebih penting daripada seberapa kaya seseorang.
d. Kamtibmas yang baik lahir dari masyarakat yang bijak memandang harta
Masyarakat yang menyadari bahwa harta hanyalah titipan akan lebih:
- saling membantu
- saling menguatkan
- menjaga perasaan sesama
- hidup harmonis
- terhindar dari konflik, hasad, dan kriminalitas
Keamanan lingkungan bukan hanya tugas polisi, tetapi dimulai dari cara kita memandang dunia.
4. Penutup
Hadirin yang saya hormati,
Tidak ada salahnya menjadi kaya, dan tidak ada pula keistimewaan khusus menjadi miskin. Yang penting adalah siap mental untuk keduanya.
Orang yang siap hidup sederhana tidak takut miskin, dan orang yang siap hidup kaya tidak sombong ketika diberi rezeki.
Inilah pribadi yang stabil, tenang, dan membawa kesejukan bagi lingkungan.
Sebaliknya, orang yang hanya ingin kaya dan takut miskin biasanya membawa potensi masalah bagi dirinya dan masyarakat.
Mari kita perbaiki cara pandang:
Harta adalah amanah, bukan kehormatan.
Sederhana adalah kemuliaan, bukan kekurangan.
Dan keamanan masyarakat dimulai dari hati-hati yang tidak diperbudak oleh dunia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.