“Aku Iki Yo Ngene Iki”: Ketika Pemimpin Menolak Berubah, Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Bagikan Keteman :


Dalam kehidupan organisasi, tidak jarang kita menjumpai sosok pemimpin yang mengatakan, “Wong gudu ngerti dewe, aku iki yo ngene iki”—sebuah ungkapan yang menggambarkan penolakan untuk berubah dan sikap ingin diterima apa adanya, tanpa evaluasi maupun perbaikan diri. Mungkin sepintas terdengar jujur, bahkan tegas. Namun, bila dicermati lebih dalam, sikap ini justru berpotensi menjadi sumber konflik dan penghambat kemajuan.

Kepemimpinan Bukan Tentang Diterima, Tapi Siap Membentuk Diri

Pemimpin sejati tidak hanya ingin dimengerti, tapi juga berusaha mengerti. Ia tidak hanya menuntut loyalitas, tapi juga memberi teladan. Ketika seorang pemimpin bersikeras bahwa dirinya tidak perlu berubah, ia sebenarnya sedang menutup pintu pertumbuhan—baik untuk dirinya sendiri maupun bagi tim yang dipimpinnya.

Sikap “terima aku apa adanya” bisa menjadi jebakan. Ia menumbuhkan zona nyaman yang semu, mengabaikan realitas bahwa dunia, tantangan, dan manusia terus berubah. Justru pemimpin yang hebat adalah mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri tanpa harus kehilangan jati diri.

Menjadi Pemimpin yang Reflektif

Setiap pemimpin seharusnya memupuk keberanian untuk berkaca:

  • Apakah gaya kepemimpinan saya membuat tim berkembang?
  • Apakah saya cukup mendengarkan?
  • Apakah saya menjadi versi terbaik dari diri saya hari ini dibanding kemarin?

Refleksi semacam ini bukan tanda kelemahan, tetapi kekuatan. Justru pemimpin yang mau berubah adalah mereka yang kuat, karena butuh kerendahan hati untuk mengakui bahwa dirinya belum sempurna.

Jangan Takut Berubah

Jika Anda adalah pemimpin, ingatlah: berubah bukan berarti kehilangan diri. Berubah adalah proses memurnikan watak, menyaring kebiasaan yang tak lagi relevan, dan menemukan cara baru untuk melayani dengan lebih baik. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal “aku ini siapa”, tapi “aku ini bisa menjadi apa untuk orang lain”.

Dan jika Anda adalah anggota tim yang dipimpin oleh figur seperti ini, jangan putus asa. Jadilah teladan dari bawah. Tunjukkan bahwa perubahan itu mungkin dan berdampak. Komunikasikan dengan cara yang bijak. Kadang, hati yang keras bisa dilunakkan oleh ketulusan dan ketekunan.

Penutup

Kepemimpinan bukanlah panggung ego, melainkan ladang pengabdian. Maka setiap pemimpin harus terus belajar, bukan membenarkan kelemahan sebagai identitas. Sebab seorang pemimpin yang menolak berubah, pada akhirnya sedang menggiring timnya menuju jalan buntu.

Jadilah pemimpin yang membuka hati, bukan mengunci diri. Karena hanya dengan perubahan, kita bisa melangkah lebih jauh, bersama.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment