Tragedi Ponpes Al-Khozini: Saat Niat Baik Harus Berjalan Bersama Ilmu dan Tanggung Jawab Musibah memilukan yang menimpa para santri di Pondok Pesantren Al-Khozini, Sidoarjo, mengguncang nurani bangsa.Bangunan musholla yang seharusnya menjadi tempat sujud dan ketenangan, tiba-tiba roboh dan merenggut nyawa anak-anak yang tengah menuntut ilmu.Sungguh duka yang dalam, duka yang tak boleh berlalu begitu saja. Di balik peristiwa ngeri itu, kita harus berani bertanya dengan jujur:Apakah ini murni takdir, atau ada kelalaian manusia yang selama ini kita abaikan? 🏗️ Niat Baik Tidak Cukup Tanpa Ilmu Banyak pembangunan di negeri ini…
Read MoreBelajar dari Musibah Ponpes Al-Khozini: Niat Baik Tak Cukup, Harus Disertai Ilmu dan Tanggung Jawab
Belajar dari Musibah Ponpes Al-Khozini: Niat Baik Tak Cukup, Harus Disertai Ilmu dan Tanggung Jawab Musibah runtuhnya musholla di Pondok Pesantren Al-Khozini, Sidoarjo, beberapa waktu lalu menyisakan duka yang mendalam. Sebuah tempat ibadah, rumah suci tempat berdzikir dan belajar agama, justru menjadi lokasi terjadinya tragedi yang menelan korban jiwa.Pertanyaan besar pun muncul di benak kita: mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Di balik peristiwa memilukan itu, terselip pelajaran penting tentang bagaimana niat baik harus selalu diiringi oleh ilmu, perencanaan, dan tanggung jawab teknis. Karena dalam pandangan Islam, setiap amal kebaikan…
Read MoreMelihat Manusia dengan Pandangan yang Benar
Dalam kehidupan, kita seringkali terjebak menilai orang lain dari hal-hal lahiriah: kekayaan, jabatan, kecerdasan, atau penampilan luar. Padahal, semua itu hanyalah sementara. Kekayaan bisa sirna, jabatan bisa dicopot, kecerdasan bisa hilang, dan rupa yang indah pun akan menua. Jika ukuran kita hanya berhenti pada hal-hal duniawi, maka sesungguhnya kita sedang menilai sesuatu yang fana, bukan hakikat yang sejati. Pandangan Allah Berbeda dengan Pandangan Manusia Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim) Hadis ini membuka mata kita:…
Read MoreHidayah: Misteri Ilahi di Balik Kecerdasan Manusia
Hidayah: Misteri Ilahi di Balik Kecerdasan Manusia Dalam kehidupan manusia, sering muncul pertanyaan: mengapa ada orang yang sangat cerdas, jenius, dan berilmu tinggi, tetapi tetap saja tidak beriman? Mengapa sebaliknya, ada orang sederhana, bahkan dianggap biasa-biasa saja, justru hatinya lembut dan mudah menerima kebenaran? Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah hakikat besar: hidayah adalah misteri Ilahi, hak prerogatif Allah yang tidak bisa ditebak. Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).…
Read MoreTidur Sebagai Seni dan Keterampilan Menenangkan Jiwa
Tidur Sebagai Seni dan Keterampilan Menenangkan Jiwa Selama ini tidur sering dianggap hanya sebagai kebutuhan biologis: badan lelah lalu berbaring dan tertidur. Padahal dalam konteks tertentu, tidur juga bisa menjadi seni dan keterampilan. Bukan sekadar “hilang kesadaran”, tetapi sebuah proses sadar untuk menenangkan tubuh dan pikiran sebelum terlelap. Tidur yang Sadar (Mindful Sleeping) Saat seseorang mulai membaringkan badan, melonggarkan urat-urat saraf, mengatur napas secara alami, dan menenangkan pikiran, ia sebenarnya sedang melakukan latihan relaksasi dan kesadaran tubuh. Pada tahap ini, tidur bukan lagi hanya kegiatan otomatis, tetapi sebuah keterampilan untuk…
Read MorePerasaan Mukmin Saat Melihat Kekayaan: Antara Kagum dan Takut Hisab
Seorang mukmin sejati tidak hanya menilai sesuatu dari tampilan lahiriah. Ketika ia melihat rumah mewah, mobil mewah, dan harta yang melimpah, ia bukan hanya kagum pada keindahan atau kecanggihannya, tetapi hatinya spontan teringat pada hisab — perhitungan nikmat yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Mengapa Muncul Perasaan Seperti Ini? Ini tanda hati yang hidup dan sadar akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang: umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta…
Read MoreHati di Akhirat, Kaki di Dunia: Memahami Makna Hidup Dalam Kesadaran Akhirat
Hati di Akhirat, Kaki di Dunia: Memahami Makna Hidup Dalam Kesadaran Akhirat Seorang muslim sejatinya hidup dengan dua dimensi: badannya masih berada di dunia, tetapi hati dan pikirannya telah mengarah ke akhirat. Ini bukan berarti ia meninggalkan urusan dunia, melainkan ia memaknai setiap detik hidup di dunia sebagai persiapan menuju kehidupan abadi di akhirat. Mengapa Hati Harus Berada di Akhirat? Karena akhirat adalah tempat kembali yang pasti. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…” (QS. Al-Qashash:…
Read MoreMemahami Makna “Dia yang Diibadahi” – Menata Hati Agar Hanya Tertuju Kepada Allah
Sering kita mendengar definisi umum tentang Tuhan: Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa alam semesta. Definisi ini benar, tetapi Al-Qur’an mengajarkan makna yang lebih dalam. Dalam bahasa tauhid, Tuhan bukan hanya Pencipta, melainkan juga “Dia yang diibadahi” — Dia yang menjadi pusat cinta, pengagungan, pengharapan, dan ketaatan kita. Apa Arti “Diibadahi”? “Ibadah” dalam Islam bukan hanya sujud, shalat, atau ritual tertentu. Kata “ibadah” berasal dari kata “ʿabada” yang artinya tunduk, patuh, merendahkan diri karena cinta dan pengagungan. Para ulama mendefinisikannya: “Ibadah adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah berupa…
Read MoreManfaatkan Setiap Detik Hidupmu untuk Mendekat kepada Allah
Setiap detik hidup kita adalah hadiah yang tak ternilai. Waktu adalah modal utama yang diberikan Allah untuk kita beramal. Jika waktu hilang, tak seorang pun mampu membelinya kembali. Karena itu, orang beriman yang cerdas tak rela waktunya terbuang sia-sia. Ia menjadikan setiap hembusan nafas, setiap langkah, bahkan setiap detik yang berlalu sebagai ladang pahala. Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Ayat ini menjadi pengingat kuat betapa berharganya…
Read MoreMenyadari Hakikat Kehidupan: Kita Bukan Makhluk Merdeka, Melainkan Hamba Sang Pencipta
Di balik kesibukan dunia modern yang serba cepat, kita sering merasa seolah-olah diri ini “merdeka” sepenuhnya. Kita merasa bebas memilih, bebas bertindak, bebas menentukan arah hidup. Padahal, bila merenung lebih dalam, kebebasan itu hanyalah relatif dan bersifat sementara. Kita bukanlah makhluk merdeka mutlak. Kita hanyalah hamba, makhluk ciptaan yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada Sang Pencipta. Kesadaran ini adalah pondasi besar yang menentukan arah hidup kita. Tanpanya, manusia mudah liar, sombong, dan tak terkendali. Dengan menyadari posisi sebagai hamba, kita menemukan rem batin yang menjaga langkah agar tetap berada di jalan…
Read More