Segera Bertaubat dari Maksiat — Menjaga Diri, Menjaga Negeri

Bagikan Keteman :


Andik Irawan, Anggota Da’i Kamtibmas Polres Gresik


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah ﷻ, Tuhan Yang Maha Pengampun, yang membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya siang dan malam.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang diutus untuk membimbing manusia dari gelapnya maksiat menuju cahaya hidayah dan iman.


🌱 Hidup Ini Singkat, Maka Jangan Tunda Taubat

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa, karena kita bukan malaikat.
Namun, yang membedakan orang baik dan orang lalai adalah seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah tergelincir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang segera bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Artinya, kesalahan bukan akhir segalanya.
Yang berbahaya adalah ketika dosa menjadi kebiasaan dan hati menjadi keras hingga tidak lagi merasa salah.


🔥 Bahaya Maksiat: Dari Dosa Pribadi Menjadi Masalah Sosial

Banyak orang mengira dosa hanya urusan pribadi, padahal maksiat berdampak pada keamanan dan ketentraman masyarakat.
Karena satu maksiat kecil bisa melahirkan masalah besar.

  • Orang yang lalai dari shalat, hatinya mudah gelisah dan emosinya tidak terkontrol.
  • Orang yang cinta dunia dan mabuk maksiat, mudah tergoda korupsi, mencuri, bahkan berbuat kejahatan.
  • Orang yang terbiasa bohong di media sosial, bisa menebar fitnah dan merusak persaudaraan.

Itulah sebabnya Allah mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka taubat bukan hanya urusan pribadi, tapi juga tanggung jawab sosial.
Jika setiap individu bertaubat dan menjaga diri dari maksiat, maka masyarakat akan aman, tenteram, dan Kamtibmas akan terpelihara.


💔 Bahaya Menunda Taubat

Hadirin sekalian,
Banyak orang tahu dosa itu salah, tapi tetap menundanya.
Padahal tidak ada satu pun di antara kita yang tahu kapan ajal datang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Segeralah kalian beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap, seseorang di pagi hari beriman, sore harinya kafir.”
(HR. Muslim)

Betapa banyak orang yang hari ini masih bisa tertawa, tapi esoknya dipanggil tanpa sempat mengucap istighfar.
Maka siapa pun kita — aparat, pemuda, pedagang, atau warga biasa — jangan menunda taubat.
Karena penyesalan di dunia masih bisa diperbaiki, tapi penyesalan di akhirat tak ada jalan kembali.


🌤️ Pintu Taubat Selalu Terbuka

Kabar gembira bagi kita semua,
Allah ﷻ tidak pernah menutup pintu taubat, bahkan bagi pendosa yang paling berat sekalipun.

Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini bukan sekadar janji, tapi panggilan kasih sayang.
Selama kita masih hidup, masih ada waktu untuk berubah, untuk bersujud dan memohon ampun.
Tidak peduli seberapa jauh kita tersesat — Allah menunggu kita pulang.


🕊️ Taubat yang Benar Membawa Kedamaian dan Kamtibmas

Sebagai Da’i Kamtibmas, kita tahu bahwa keamanan lahir dari ketenangan hati masyarakat.
Dan ketenangan hati hanya bisa hadir bila hati bersih dari dosa dan maksiat.

Coba perhatikan:

  • Orang yang hatinya jauh dari Allah, mudah marah, iri, dan menebar kebencian.
  • Tapi orang yang bertaubat dan dekat dengan Allah, hatinya tenang, damai, dan menyebarkan kedamaian.

Taubat sejati melahirkan masyarakat yang aman dan harmonis.
Karena orang yang bertaubat akan menahan diri dari perbuatan buruk, menjaga lisannya dari fitnah, dan hatinya dari kebencian.
Inilah pondasi Kamtibmas yang sejati — keamanan lahir dari ketenangan batin.


🌸 Langkah Menuju Taubat yang Sungguh-Sungguh

  1. Menyesali dosa — sadari bahwa maksiat adalah kegelapan yang merusak diri dan masyarakat.
  2. Berhenti dari maksiat — jangan ditunda, jangan tunggu waktu “nanti.”
  3. Berjanji tidak mengulanginya — kuatkan tekad untuk berubah, meski bertahap.
  4. Ganti keburukan dengan kebaikan.
    Perbanyak shalat, sedekah, dzikir, dan amal sosial.

“Sesungguhnya perbuatan baik menghapus kesalahan.”
(QS. Hud: 114)


💎 Penutup: Kembali Sebelum Terlambat

Hadirin yang dirahmati Allah,
Tidak ada manusia yang terjamin selamat kecuali yang bertaubat.
Tidak ada bangsa yang aman kecuali bila rakyatnya dekat kepada Tuhan.

Maka mari kita jadikan taubat sebagai gerakan moral masyarakat.
Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, hingga desa kita.
Tinggalkan maksiat, hidupkan shalat, jaga lisan, dan saling menasihati dalam kebaikan.

🌿 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
(QS. Ali Imran: 133)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bertaubat dengan sungguh-sungguh,
menjaga diri dari dosa, menjaga keluarga dari maksiat,
dan menjaga masyarakat dari kerusakan moral serta gangguan kamtibmas.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Related posts

Leave a Comment