Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, suri teladan dalam akhlak, kebijaksanaan, dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kita hidup di negeri yang penuh warna—beragam suku, budaya, bahasa, dan juga keyakinan. Bahkan di antara kita sesama umat Islam pun, ada banyak pandangan, mazhab, dan cara beribadah yang mungkin berbeda. Namun justru di situlah keindahan dan ujian bagi kedewasaan kita dalam beragama.
Islam tidak mengajarkan kita untuk mudah menghakimi, apalagi menuduh sesat, bid’ah, atau kafir terhadap pihak lain. Sebab urusan menilai sesat atau tidak, syirik atau tidak, kafir atau tidak, adalah perkara besar yang memerlukan ilmu, otoritas, dan kehati-hatian. Maka, biarlah hal itu menjadi wewenang lembaga resmi dan berkompeten, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau lembaga fatwa yang sah.
Kita sebagai masyarakat, apalagi sebagai da’i Kamtibmas, tugas kita bukan membakar api perpecahan, tapi menjadi penyejuk, penenang, dan peneguh persaudaraan.
Hadirin sekalian,
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak menghinanya, dan tidak merendahkannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa sesama umat Islam wajib menjaga kehormatan saudaranya, meskipun ada perbedaan pandangan. Jangan sampai kita menebar ujaran yang memperuncing perbedaan, apalagi menuduh tanpa dasar ilmu dan otoritas.
Jika ada hal yang perlu diluruskan, lakukanlah dengan cara lembut dan di forum internal, bukan di ruang publik yang bisa menimbulkan fitnah dan kegaduhan. Tidak semua perbedaan harus diumbar keluar, karena ketika rahasia internal bocor, maka akan timbul kecurigaan, kebencian, dan bahkan bisa mengganggu Kamtibmas.
Saudaraku,
Kamtibmas bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan, tapi juga tanggung jawab moral seluruh masyarakat, khususnya para pemuka agama.
Pemimpin organisasi dakwah, pengurus majelis, ustadz, kiai, dan da’i — semua punya peran besar menjaga kedamaian hati umat.
Bijaklah dalam berdakwah. Hargai keyakinan umat lain sesuai perintah agama:
“Lakum diinukum wa liya diin” — “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
Ayat ini bukan sekadar toleransi, tapi juga pengakuan bahwa perbedaan itu ada dan harus dihadapi dengan kebijaksanaan, bukan kebencian.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Mari kita renungkan:
Perbedaan tidak harus memecah belah.
Keragaman tidak harus jadi alasan permusuhan.
Justru perbedaan adalah kesempatan untuk saling belajar, saling memahami, dan memperkuat persatuan bangsa dan keamanan masyarakat.
Maka wahai para pemimpin dakwah, camkanlah:
Jagalah ucapanmu, timbanglah kata-katamu.
Jangan mudah menuduh, jangan cepat menilai, dan jangan jadikan mimbar dakwah sebagai tempat menghakimi.
Biarlah perbedaan kita tetap dalam koridor saling menghormati, agar agama menjadi rahmat, bukan sebab perpecahan.
Semoga Allah SWT menuntun kita semua menjadi umat yang arif, santun, dan bijaksana.
Umat yang menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga persaudaraan.
Karena dengan masyarakat yang religius, toleran, dan saling menghormati, Kamtibmas akan tegak dengan kokoh.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.