Ketika Amal Jadi Gaya Hidup Mewah: Potret Orang Kaya yang Terlalu Bangga dengan Kebaikannya

💰 Ketika Amal Jadi Gaya Hidup Mewah: Potret Orang Kaya yang Terlalu Bangga dengan Kebaikannya Zaman sekarang, jadi orang kaya itu bukan cuma soal harta — tapi juga soal bagaimana cara memamerkannya dengan elegan.Ada yang pamer lewat mobil, ada yang lewat rumah, dan yang lebih halus: pamer lewat kebaikan. Mereka tak lagi sekadar ingin disebut kaya, tapi ingin dikenal sebagai orang kaya yang dermawan, religius, dan “rendah hati” — meski kenyataannya, kata “rendah hati” itu cuma hiasan di bibir, bukan di dada. 🏠 Amal yang Butuh Penonton Ada orang kaya…

Read More

Kelakar Orang Kaya dan Aroma Keangkuhan yang Tersembunyi

Di dunia yang gemerlap oleh harta dan jabatan, terkadang keangkuhan tak selalu datang dengan suara lantang. Ia datang lembut, bahkan lucu, dalam bentuk celetukan dan guyonan.Kelihatannya ringan, tapi di balik tawa itu ada aroma tipis kesombongan — semacam kebanggaan diri yang tak lagi mampu disembunyikan. Sebagian orang kaya tidak menyombongkan diri lewat pakaian mewah atau mobil berkilap. Mereka melakukannya lewat kata-kata — singkat, santai, tapi menusuk.Kalimat yang tampak seperti motivasi, padahal perlahan menyinggung mereka yang hidup sederhana. Coba dengarkan kelakar semacam ini: “Saya tuh kalau bangun pagi bukan buat cari…

Read More

Harta, Pengakuan, dan Kesombongan yang Halus: Refleksi dari Kisah Qorun

🌾 Harta, Pengakuan, dan Kesombongan yang Halus: Refleksi dari Kisah Qorun Kisah Qorun dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita lama yang berakhir tragis. Ia adalah cermin abadi tentang manusia di setiap zaman — tentang hati yang berubah arah ketika diuji dengan kemewahan, dan tentang betapa halusnya kesombongan bisa menyelinap bahkan dalam ibadah yang tampak mulia. Bila kita renungkan, Qorun dahulu bukanlah orang jahat. Ia dikenal berilmu, saleh, bahkan ahli kebaikan di awal kehidupannya. Namun ketika harta datang berlimpah, watak dalam dirinya yang selama ini tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Ia merasa…

Read More

Harta yang Menguatkan Watak: Pelajaran dari Kisah Qorun

Kisah Qorun bukan sekadar cerita masa lalu tentang seorang kaya yang ditelan bumi. Ia adalah cermin kehidupan manusia sepanjang zaman — tentang bagaimana harta dapat memperlihatkan wajah sejati seseorang, dan betapa sulitnya menjaga kerendahan hati ketika dunia telah berada di genggaman. Setelah membaca kisah Qorun dengan hati yang terbuka, kita mulai peka terhadap kenyataan di sekitar kita. Kita melihat ada orang-orang yang, dalam kelakar dan ucapannya, menunjukkan aroma kesombongan — meremehkan orang miskin, memamerkan harta, merasa lebih tinggi hanya karena memiliki materi. Sikap seperti ini, tanpa disadari, adalah pantulan sifat…

Read More

Ketika Hati Melihat Bayangan Qorun di Sekitar Kita

Membaca kisah Qorun bukan sekadar mengenal sosok masa lalu yang tenggelam bersama harta bendanya. Ia adalah simbol abadi tentang bagaimana kekayaan bisa mengangkat seseorang setinggi langit — lalu menjatuhkannya ke jurang kehinaan.Setelah memahami kisahnya secara mendalam, mata batin kita mulai peka; kita bisa melihat “bayangan-bayangan Qorun” hidup di sekitar kita, dalam wujud manusia modern yang terjebak dalam kebanggaan semu. Cermin Qorun di Zaman Sekarang Di sekeliling kita, tak sulit menemukan orang-orang yang — mungkin tanpa sadar — menampilkan sikap serupa Qorun.Ucapan dan kelakar mereka sering bernada tinggi, menyindir kaum miskin…

Read More

Ketika Dakwah Kehilangan Arah: Antara Panggung, Ilmu, dan Amanah

Dakwah sejatinya adalah ladang suci — ladang tempat para pewaris nabi menanamkan kebenaran dan menuai hidayah.Namun kini, di tengah gemerlap zaman digital, ladang itu mulai berubah bentuk.Dari ruang pengabdian, menjadi ruang pertunjukan.Dari upaya membimbing, berubah menjadi ajang mencari pengakuan. Fenomena ini tampak jelas di hadapan kita:banyak yang semangat berdakwah, tapi belum cukup ilmu.Banyak yang pandai berbicara, tapi tidak paham apa yang dibicarakan.Akhirnya, isi ceramah terdengar megah tapi hampa — tidak membumi, tidak menyentuh kebutuhan umat, bahkan kadang melenceng dari kebenaran. 1. Ketika Dakwah Tanpa Ilmu Menjadi Racauan Ilmu adalah ruh…

Read More

Kemalasan Berpikir: Penghalang Kebenaran dan Awal Kehancuran Manusia

Di antara sekian banyak kemalasan manusia, ada satu yang paling berbahaya — malas berpikir.Malas bergerak hanya membuat tubuh lemah, malas bekerja hanya membuat hidup miskin, tapi malas berpikir membuat manusia kehilangan jati dirinya sebagai makhluk berakal. Padahal, berpikir adalah keistimewaan tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia.Dengan berpikir, manusia bisa mengenali kebenaran, memahami makna, dan akhirnya menemukan Tuhan.Namun ketika akal ini enggan digunakan, manusia berjalan dalam gelap — hidupnya penuh kesalahan, dan puncaknya adalah kehancuran. 1. Berpikir Adalah Jalan Menuju Kebenaran Tidak ada satu pun kebenaran yang dapat ditemukan tanpa berpikir.Kebenaran,…

Read More

Kesadaran Sejati: Batu Pertama dalam Pondasi Akidah Manusia

Kesadaran Sejati: Batu Pertama dalam Pondasi Akidah Manusia Setiap manusia dikaruniai sesuatu yang sangat berharga oleh Tuhan — akal pikiran. Ia bukan sekadar alat berpikir atau menimbang untung rugi, melainkan cahaya yang mampu menuntun manusia mengenal kebenaran tertinggi, yaitu keberadaan Tuhan. Manusia yang menggunakan akalnya dengan jernih, bebas dari kesombongan dan hawa nafsu, pasti akan sampai pada satu kesimpulan yang tak terbantahkan: Tuhan itu ada. Bukan karena doktrin, bukan pula karena ikut-ikutan, melainkan karena kesadaran murni yang tumbuh dari perenungan dan pengamatan mendalam terhadap kehidupan dan alam semesta. Langit yang…

Read More

Makna Agung Lā Ilāha Illallāh: Kalimat yang Lebih Berat dari Langit dan Bumi

Ada sebuah kalimat yang begitu pendek, ringan di lidah, namun berat tak terhingga nilainya di sisi Allah. Kalimat itu adalah “Lā ilāha illallāh”, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Tampak sederhana, tapi sejatinya, inilah kalimat yang mengguncang seluruh jagat raya, mengguncang hati manusia, bahkan menentukan nasib seseorang — apakah ia akan menjadi penghuni surga atau tidak. 🌿 Bukan sekadar ucapan, tapi perjanjian besar Banyak orang mengucapkannya tanpa menyadari maknanya. Mereka mengira “Lā ilāha illallāh” hanyalah zikir biasa yang bisa diulang-ulang di bibir. Padahal sejatinya, ia adalah ikrar hidup, perjanjian…

Read More

Tangis di Balik Dinding Musholla

Di sore itu yang mestinya hening,suara adzan Maghrib seakan terhenti di tengah udara,ketika dinding yang pernah bersaksi pada sujud merekatiba-tiba runtuh,menghimpit tubuh-tubuh suciyang baru saja menghafal ayat cinta Tuhan. Wahai anak-anak surga,wahai santri-santri kecil penjaga kalam-Nya,air mata kami tumpah bersama puing-puing yang berserakan,namun kami tahu,kalian tidak mati,kalian hidup di taman-taman cahaya,disambut oleh malaikat yang mencium kening kalian satu per satu. Di hati para ibu,ada lubang rindu yang tak akan pernah tertutup,namun di langit,ada senyum yang abadi —senyum kalian, wahai syuhada kecil,yang pergi dalam keadaan suci,berpakaian iman,berselimut doa. Kami menangis bukan…

Read More